Feeds:
Tulisan
Komentar

The Power of Print

Ada begitu banyak ramalan tentang masa depan media cetak. Dari yang paling moderat macam konvergensi multimedia hingga yang paling ekstrim bakal musnahnya media cetak, sebagaimana ditulis Philip Meyer dalam bukunya Vanishing Newspaper (2004), bahwa kepunahan media cetak di AS akan terjadi pada kuartal pertama 2043. Sebagian dari ramalan itu memang menjadi nyata. Tapi sebagian besar yang lainnya, masih berupa tanda tanya besar. Tanda tanya besar itu justru memperkuat kepercayaan para penerbit media cetak akhir-akhir ini, bahwa media cetak masih mampu hidup dalam jangka yang panjang.

Kecenderungan positif semacam ini juga terlihat pada hasil survei kantor saya, Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat bekerjasama dengan LP3ES pada Juni 2009. Secara umum, temuan survei itu masih menunjukkan potensi dan peluang pasar media cetak di masa datang. Rata-rata waktu orang Indonesia membaca koran per hari selama 34 menit. Sementara majalah dibaca selama 30 menit dan tabloid 27 menit per hari. Bandingkan dengan di Inggris, umumnya orang membaca koran selama 40 menit per hari (2007).

Survei ini juga menegaskan, bahwa internet bukan lawan bagi media cetak. Betapa tidak? Ternyata sebagian besar (60%) orang mengakses situs jejaring sosial dibanding media online (20%) dan situs berita (12%). Umumnya (63%) lama mengakses internet hanya berkisar 1 – 2 jam per hari, dan sebagian besar (67%) melalui warnet.

Lanjut Baca »

Diskusi bedah buku SPS dengan Unesco di Medan, 18 November 2009.

Meneruskan agenda diskusi bedah buku Unesco bertajuk “Panduan Manual Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jurnalisme” yang sudah diselenggarakan kantor saya bersama Unesco di Jakarta (20/10) dan Surabaya (27/10), saya pun berangkat ke Medan, untuk mengawal acara serupa tanggal 18 November 2009. Sehari sebelumnya saya sudah berada di kota “bolu Meranti” ini, untuk menyiapkan acara tersebut bersama seorang kawan dari kantor, Siswanto.

Setiap kali membuat acara kantor di Medan, selalu menyenangkan suasananya. Ada gairah tersendiri di sini. Sambutan kawan-kawan peserta yang kebanyakan para pengelola penerbit media cetak lokal, selalu antusias. Betapa tidak. Di kota ini, sekitar 20 suratkabar harian terbit secara rutin, termasuk tiga legenda hidup koran Sumatera Utara –Analisa, Waspada, dan Sinar Indonesia Baru.

Ketiga koran itu mewakili gambaran besar tentang profil pembaca koran di Sumatera Utara yang tercermin dari kategori masyarakat pebisnis keturunan Tionghoa (Analisa), kelas menengah pegawai negeri sipil dan kaum akademis plus aktivis nasionalis (Waspada), serta masyarakat kaum agamis Protestan (SIB). Di luar ketiga koran itu, sebenarnya ada beberapa koran penantang yang patut diperhitungkan seperti Sumut Pos dan Pos Metro Medan milik kelompok Jawa Pos, maupun Mimbar Umum.

Selebihnya, rata-rata koran-koran harian di Sumatera Utara terbit dengan penetrasi pembaca di bawah ketiga pemain utama tadi. Justru di sinilah, kompetisi antar pemain koran di Sumut menjadi sangat ketat. Catatan saya menunjukkan, jumlah penerbit koran harian di Sumut merupakan terbanyak kedua setelah Jakarta. Sayangnya, jumlah penerbit koran sebanyak itu tidak diimbangi oleh populasi sumber daya pers yang memadai pula. Baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

Lanjut Baca »

LMP Makassar 2009-1

Peluang pasar koran di daerah masih terbuka lebar.

Jika bertandang ke Makassar, saya selalu merindukan tiga hal: ikang bakar, minyak tawon, dan pantai Losari. Hhhhhhhhmmmmm…. Tahun ini, sudah tiga kali saya ke Makassar, dan selalu saja tidak pernah merasa bosan. Bagi saya, Makassar merupakan salah satu destinasi wisata kuliner favorit. Walaupun tak banyak lokasi wisata di dalam kota –belakangan hadir Theme Park milik Trans TV di daerah Tanjung Bunga– namun banyaknya destinasi kuliner yang pantas dinikmati, tak membuat saya kehabisan lokasi menarik di kota “Daeng”, ini.

Dalam sebuah postingan saya kira-kira setahun lalu di blog lama (Jangan Lombok Ijo), saya menulis tentang Makassar ini dengan judul: “From Makassar with Love”. Ya…. Suasana kota ini sangat khas. Kawasan pantai tempat orang sering menghabiskan waktu untuk sekadar mengobrol –pantai Losari– berada dalam jarak yang sangat dekat dengan deretan hotel, kafe, maupun restauran di depannya. Hanya dipisahkan oleh sepenggal jalan raya selebar kira-kira 6 meter.

Di situlah setiap sore hingga jelang tengah malam, keramaian berlangsung. Apalagi, kini, di bibir Losari kembali dilakukan reklamasi untuk membuat semacam taman mini. Berbagai konser musik dan pertunjukan seni, acapkali digelar di boulevard pantai Losari itu. Di belakang jalan raya yang membujur sepanjang Losari, terdapat sebuah jalan yang sarat dengan aroma “oleh-oleh khas Makassar. Itulah Jalan Somba Opu. Di jalan inilah saya selalu membeli oleh-oleh setiapkali hendak kembali ke Jakarta usai bertugas di Makassar.

Lanjut Baca »

Hak jawab di kaki Ciremai

Bersama Wahyu Muryadi

Peserta workshop, berpose bersama Wahyu Muryadi (TEMPO).

Cuma beristirahat semalem, usai menuntaskan acara diskusi buku Unesco di Surabaya, Kamis (29/10) pagi sekitar pk. 07.30 WIB, saya sudah berada di stasiun Gambir. Hari itu, kantor saya membawa rombongan peserta workshop How to Handle Press Well  yang berasal dari 18 lembaga –perusahaan swasta, instansi pemerintah, dan BUMN– menuju ke Kuningan, Jawa Barat via Cirebon. Ini adalah event reguler tiap tahun yang digelar kantor saya, untuk memberikan exercise kepada para praktisi PR tentang kasus-kasus terkait relasi PR dengan media atau wartawan.

Rangkaian KA Argojati yang kami tumpangi, pagi itu berangkat on time, sebagaimana jadwal yang diberikan, pk. 09.00 WIB. Hampir tiga jam kemudian, kereta pun sampai di stasiun Cirebon. Seluruh peserta langsung saya ajak ke kantor Harian Radar Cirebon, untuk bersantap siang sekaligus meninjau dapur redaksi koran terbesar di wilayah pantura Jawa Barat itu.

Sekitar satu jam kami berada di kantor Radar Cirebon. Usai bersantap siang dan meninjau beberapa ruangan di kantor ini, saya lalu mengajak peserta menuju hotel Grage Sangkan, Kuningan, lokasi workshop ini diadakan. Total 32 peserta mengikuti workshop reguler yang telah berlangsung sejak 2006 itu.

Lanjut Baca »

Sejak awal Kompas dikenal oleh publik pemerhati industri pers sebagai sebuah institusi media cetak yang sangat “baku dan tertata” dalam menjalankan bisnisnya. Ketika Kompas semakin bertambah “tambun” tubuhnya, karakter itu tidak juga hilang, sebaliknya justru kian permanen dibenamkan oleh para pimpinannya. Harapannya, untuk menjaga tradisi manajemen Kompas yang sedari awal sudah dikenal sangat “birokratis” itu. Saya menyebut model Kompas ini sebagai model “sistemik”.

Lain dengan Jawa Pos. Saya melihat Jawa Pos dibangun dengan gaya-gaya “mencoba”. Ketika (alm) Erick Samola –waktu itu salah satu petinggi di kelompok bisnis Ciputra– mengambil-alih Jawa Pos dari pemilik lamanya di tahun 1982, ia mungkin membayangkan Jawa Pos akan menjadi salah satu koran lokal saja di Surabaya dan Jawa Timur. Karena di zaman itu, tabu untuk melalukan ekspansi usaha koran, meskipun hanya berkhayal. Barangkali begitu. Sehigga, boleh jadi, tidak terbayang di benaknya, Jawa Pos bisa berkecambah seperti sekarang di bawah pengelolaan Dahlan Iskan.

Lanjut Baca »

Kompas vs Jawa Pos

Semua orang yang berkecimpung di industri media cetak di negeri ini, sangat paham tentang “rivalitas” klasik antara Kompas vs Jawa Pos. Dalam banyak kesempatan bergaul dengan para pemimpin kedua penerbitan koran itu, saya menjumpai berbagai momen yang mempertontonkan aroma “persaingan” itu. Memang hawa kompetisi di level pucuk manajemen tidak “sepanas” di level operator. Tapi, saya tetap merasakan aura kompetisi itu selalu menyelimuti setiap perjumpaan bersama pucuk pimpinan kedua koran papan atas ini.

Kompas, selama ini dianggap sebagai representasi dari koran nasional yang sukses. Nyaris semua wilayah –pulau, propinsi, dan sebagian besar kota/kabupaten– tersentuh oleh Kompas. Dengan oplah yang berkisar 500-an ribu eksemplar (data Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, Juni 2009), Kompas memang menguatkan eksistensinya sebagai koran nasional.

Adapun Jawa Pos, adalah potret sukses koran daerah atau regional. Dengan tiras berkisar 300-an ribu eksemplar (data SPS Pusat, Juni 2009), Jawa Pos merambah Jawa Timur dan sekitarnya. Jawa Pos pula yang mengawali gelombang ekspansi koran-koran lokal di seluruh Indonesia melalui koran divisi 1 (terbit di ibukota propinsi), maupun koran divisi 2 (di kota atau kabupaten dalam satu propinsi). Ini semua dibangun Jawa Pos sejak akhir dekade 80-an, yang membuat Jawa Pos grup kini memiliki lebih dari 100 koran.

Lanjut Baca »

SPS - Unesco @ Sby-3

Sirikit Syah, memberikan pandangannya tentang buku Unesco.

Senin (26/10) sore itu, saya sangat bergegas untuk segera keluar dari hotel Millenium. Saya harus mengejar pesawat ke Surabaya yang terjadwal Pk. 18.00 WIB. Saat itu, saya baru saja usai menyampaikan presentasi di depan forum evaluasi tahunan Perpustakaan Nasional dalam rangka sosialisasi UU No. 4/1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR). Hhhhmmmm… seperti kebiasaan banyak orang di republik ini, presentasi saya mulai molor 1 jam dari jadwal semula yang pukul 14.00 WIB.

Presentasi itu pun saya lakukan dengan ngebut, karena –saya perkirakan– harus tuntas paling lambat pukul 16.00 WIB, agar cukup waktu buat saya untuk meluncur ke airport. Usai presentasi, lihat hasilnya di postingan sebelumnya (Menarik Penerbit Patuhi UU SSKCKR), beberapa peserta sempat mengajak saya berdiskusi. Bahkan, saya pun sempat bertemu delegasi dari Perpustakaan Daerah Istimewa Jogjakarta. Jadi serasa berada di “kampung halaman”, nich, pikir saya senyum-simpul.

Sayangnya, saya tak punya waktu banyak berdiskusi dengan teman-teman baru itu. Kartu nama pun saya berikan kepada sebagian dari mereka, untuk keperluan korespondensi lebih lanjut.

Singkat cerita, saya segera ngabur ke luar hotel mencari taxi untuk membawa saya ke Cengkareng. Ppppppffffffff…. Jam di tangan saya sudah menunjuk waktu 16.30 WIB. Uppppssssss…. “Pak, tolong ngebut dikit kalo bisa,” perintah saya kepada sang driver taxi.Daaaaaaaaannnnn…. Persis 30 menit jelang closing, saya pun sampai di depan counter check in GA di Soekarno-Hatta.

Sore itu saya harus terbang ke Surabaya untuk mengawal acara diskusi buku Panduan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jurnalisme terbitan Unesco yang diselenggarakan esok harinya (27/10) di hotel Sahid. Bersama seorang kawan dari kantor, akhirnya kami terbang ontime menuju Surabaya, yang ditempuh selama 70 menit dengan pesawat Boeing 737-800 NG milik Garuda Indonesia.

Lanjut Baca »

Tidak mudah rupanya mengajak penerbit media cetak untuk mematuhi UU No. 4/1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (UU SSKCKR). Alasannya beraneka ragam. Mulai dari merasa tidak tahu UU ini, mahalnya ongkos kirim ke perpustakaan nasional, hingga menganggap remeh UU SSKCKR.

Dibanding UU Pers dan UU Perseroan Terbatas, UU SSKCKR relatif dianggap “anak tiri” oleh sebagian penerbit pers. Boleh jadi, itu akibat ringannya sanksi yang melekat pada pelanggar UU, yang paling tinggi pindana denda selama 6 bulan atau denda maksimal Rp 5 juta. Pasal 2 UU SSKCKR memerintahkan para penerbit (termasuk penerbit media cetak) untuk menyerahkan 2 (dua) buah cetakan dari setiap judul karya cetak yang dihasilkan kepada Perpustakaan Nasional, dan sebuah kepada Perpustakaan Daerah di ibukota propinsi bersangkutan, selambat-lambatnya tiga bulan sejak diterbitkan.

Jika demikian, tentu diperlukan cara yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan para penerbit, terutama mereka yang menjadi anggota kantor saya, Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), agar mematuhi UU SSKCKR. Dari 951 penerbit anggota SPS di seluruh Indonesia, baru 24 penerbit koran harian, tujuh penerbit tabloid, dan 32 penerbit majalah yang sudah menyerahkan produk terbitannya secara rutin kepada perpustakaan nasional, sebagaimana amanat UU itu. Wowwwwww….!!!! Masih banyak sekali yang belum patuh. Menyedihkan, memang.

Lanjut Baca »

Henri Subiakto, Staf Ahli Menkominfo, mengomentari buku terbitan Unesco.

Henri Subiakto, Staf Ahli Menkominfo, mengomentari buku terbitan Unesco.

Siapa bilang jadi wartawan itu mudah? Hanya orang yang tidak paham industri media saja akan memandang sebelah mata kualifikasi seorang jurnalis, reporter, atau penulis. Jurnalis handal lahir dari sebuah sistem pendidikan jurnalisme yang terstruktur dan mengikuti kaidah-kaidah kurikulum standar.

Itulah sebabnya sangat penting memberikan perhatian terhadap proses pendidikan jurnalisme di Indonesia. Jamak dipahami, kini semakin banyak ditemui praktik jurnalisme yang tidak memenuhi kaidah-kaidah jurnalisme standar. Mulai dari cara penulisan yang semrawut, kesalahan penulisan nama narasumber dan lokasi peristiwa, kesalahan penggunaan tanda baca, hingga verifikasi data yang acapkali tidak akurat. Padahal, akurasi adalah salah satu disiplin penting dalam jurnalisme.

Lanjut Baca »

Diskusi kelompok menyusun tugas dari narasumber.

Diskusi kelompok menyusun tugas dari narasumber.

Menulis sebenarnya adalah sebuah pekerjaan. Sayangnya, tak semua orang paham mengenai “pekerjaan menulis” ini. Coba bayangkan, tiap hari di kantor, setiap pekerja profesional selalu memanfaatkan komputer, baik desktop maupun laptop. Apa yang mereka kerjakan, kalau bukan untuk menuliskan sesuatu di dalam layar komputer. Mulai dari menulis memo, nota dinas, e-mail, surat, proposal, hingga laporan pelaksanaan program. Yang jelas, sebagian besar dari mereka bukanlah jurnalis atau penulis profesional.

Karena sudah menjadi sebuah rutinitas, semestinya upaya memperbaiki ketrampilan menulis harus terus dilakukan. Baik melalui diskusi internal, maupun mengikuti pelatihan-pelatihan peningkatan ketrampilan menulis. Lebih-lebih jika sang majikan alias bos di kantor berharap seluruh tulisan –memo, nota dinas, e-mail, dan laporan—dari staf harus mengikuti kaidah penulisan yang baik dan benar. Mau tak mau, training harus dilakukan. Meskipun, tanpa menunggu perintah manajemen, pelatihan seperti ini layak dan pantas diadakan.

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »