Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2009

Henri Subiakto, Staf Ahli Menkominfo, mengomentari buku terbitan Unesco.

Henri Subiakto, Staf Ahli Menkominfo, mengomentari buku terbitan Unesco.

Siapa bilang jadi wartawan itu mudah? Hanya orang yang tidak paham industri media saja akan memandang sebelah mata kualifikasi seorang jurnalis, reporter, atau penulis. Jurnalis handal lahir dari sebuah sistem pendidikan jurnalisme yang terstruktur dan mengikuti kaidah-kaidah kurikulum standar.

Itulah sebabnya sangat penting memberikan perhatian terhadap proses pendidikan jurnalisme di Indonesia. Jamak dipahami, kini semakin banyak ditemui praktik jurnalisme yang tidak memenuhi kaidah-kaidah jurnalisme standar. Mulai dari cara penulisan yang semrawut, kesalahan penulisan nama narasumber dan lokasi peristiwa, kesalahan penggunaan tanda baca, hingga verifikasi data yang acapkali tidak akurat. Padahal, akurasi adalah salah satu disiplin penting dalam jurnalisme.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Diskusi kelompok menyusun tugas dari narasumber.

Diskusi kelompok menyusun tugas dari narasumber.

Menulis sebenarnya adalah sebuah pekerjaan. Sayangnya, tak semua orang paham mengenai “pekerjaan menulis” ini. Coba bayangkan, tiap hari di kantor, setiap pekerja profesional selalu memanfaatkan komputer, baik desktop maupun laptop. Apa yang mereka kerjakan, kalau bukan untuk menuliskan sesuatu di dalam layar komputer. Mulai dari menulis memo, nota dinas, e-mail, surat, proposal, hingga laporan pelaksanaan program. Yang jelas, sebagian besar dari mereka bukanlah jurnalis atau penulis profesional.

Karena sudah menjadi sebuah rutinitas, semestinya upaya memperbaiki ketrampilan menulis harus terus dilakukan. Baik melalui diskusi internal, maupun mengikuti pelatihan-pelatihan peningkatan ketrampilan menulis. Lebih-lebih jika sang majikan alias bos di kantor berharap seluruh tulisan –memo, nota dinas, e-mail, dan laporan—dari staf harus mengikuti kaidah penulisan yang baik dan benar. Mau tak mau, training harus dilakukan. Meskipun, tanpa menunggu perintah manajemen, pelatihan seperti ini layak dan pantas diadakan.

(lebih…)

Read Full Post »

Untuk kedua kalinya  setelah tahun 2007, hari Rabu (14/10) lalu, kantor saya kembali mendapat kunjungan mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Lima puluh mahasiswa semester 5 (angkatan 2007) plus satu dosen pendamping tersebut, bertukar pikiran dengan saya mengenai berbagai isu, tren, dan fenomena mutakhir yang berkembang di industri media cetak, dalam rangka kegiatan kuliah kerja lapangan yang mereka adakan di sejumlah lembaga media dan perikalan di Jakarta. Sebelum mengunjungi kantor saya, hari itu mereka mengadakan kunjungan ke Trans TV dan sore harinya hendak menyambangi Metro TV. Mahasiswa itu berasal dari program studi broadcasting dan public relations (PR).

Seperti biasa, saat berdialog dengan mahasiswa yang mengunjungi SPS, saya selalu menyampaikan beberapa pertanyaan sederhana yang kadang saya suka sebut sebagai “survei kecil-kecilan”. Nah, saat itu saya pun juga melontarkan pertanyaan “klasik” tersebut. “Berapa orang diantara Anda di ruangan ini, yang hadir di kantor SPS saat ini, yang berlangganan dan membaca koran tiap hari?” lontar saya kepada mereka? Jawaban mereka sangat mengagetkan saya: hanya ada 2 orang…!!!

Lebih jauh lagi, saya tanya, berapa orang diantara Anda yang membaca koran tiap hari? Ternyata hanya 1 orang…!!! Weitss….. gejala tidak benar nich, pikir saya dalam hati. “Kalau yang membaca koran tiap minggu sekali ada berapa orang?” lanjut saya semakin gemas. Hasilnya? Cuma lima orang…!!! Saya pun langsung ambil kesimpulan di depan mereka. “Berarti memang minat baca Anda terhadap koran (media cetak) sangat rendah…!”

(lebih…)

Read Full Post »

Logo GOLKARPartai Golkar memang kini sarat dengan kiprah para pengusaha. Sejak Jusuf Kalla naik menjadi Ketua Umum Golkar lima tahun lalu, praktis partai ini semakin disesaki politisi usahawan. Alias politisi yang berakar dari kalangan dunia usaha. Politik memang tak pernah bisa abai dengan uang. Apalagi kekuasaan. Di mana kekuasaan bersemayam, maka di situ pula uang akan berputar-putar. Entah dalam jumlah berapa, tapi pasti pantas dan memadai untuk saling diperebutkan.

Meski sudah cukup berkarat dengan tradisi pengusaha yang bakal mendaki tampuk kepemimpinannya, toh baru kali ini tubuh Partai Beringin berkilau oleh cahaya sorot televisi. Betapa tidak, jika dua dari sejumlah calon kandidat ketua umum Golkar berasal dari dua taipan televisi: Surya Paloh (pemilik Media Grup) dan Aburizal Bakrie (pemilik Anteve dan TVOne). Diantara mereka, memang menyelip Tommy Soeharto, putera kesayangan alm Presiden Soeharto.

Kini, menjelang detik-detik Musyawarah Nasional (Munas) yang akan diselenggarakan di Pekanbaru, 5 – 8 Oktober 2009, dua kandidat ketua umum Golkar itu makin keras bersaing. Stasiun TV milik mereka pun tak kuasa menolak “dimanfaatkan mengkampanyekan” sang juragan masing-masing. Hampir tidak mungkin menemukan pemberitaan tentang Surya Paloh di TVOne atau ANteve, dan sebaliknya tentang Aburizal Bakrie di Metro TV. Wajarkah ini dalam konteks demokrasi media?

(lebih…)

Read Full Post »