Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Jurnalisme’ Category

Meliput di daerah konflik selalu bukan perkara mudah. Apalagi wilayah konflik kerap berada jauh dari pusat kekuasaan, alias ibukota negara. Ancaman terhadap keselamatan jurnalis media di wilayah ini sungguh tak main-main. Nyawa bisa jadi taruhannya.

Toh begitu, misi pers untuk memberikan informasi yang mencerahkan kepada pubik, senantiasa menggelorakan semangat para awak media di daerah konflik untuk terus berkarya. Tentu saja karya itu –ada maupun tidak ada di wilayah konflik– harus tetap mengedepankan prinsip-prinsip dasar jurnalistik: menjunjung tinggi sekaligus menerapkan kode etik jurnalistik (KEJ).

Sayangnya, meskipun sederhana rumusannya, KEJ acapkali tidak dipahami bahkan dipatuhi sebagian jurnalis dalam menjalankan profesinya. Alih-alih dipahami, dikenal dan dibaca saja malah tidak. Kenyataan ini kembali saya temui ketika mendapat kesempatan berbagi pengalaman dengan para jurnalis dari Papua Barat, di Makassar, Rabu (02/04/2014).

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, menyampaikan kinerja Dewan Pers 2011.

Jelang akhir tahun, Dewan Pers pun tak ketinggalan menggelar ekspose atas kinerja mereka sepanjang 2011. Paparan kinerja ini saya sebut dengan RUPS, laiknya RUPS perusahaan sebagaimana mestinya. Soalnya, acara yang digelar Senin (12/12) di kantor Dewan Pers, dihadiri sejumlah konstituen, antara lain Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan kantor saya, Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat.

Salah satu temuan terpenting yang dipaparkan Dewan Pers adalah jumlah pelanggaran etika pemberitaan media. Menurut Bagir Manan, Ketua Dewan Pers, sepanjang 2011, pelanggaran etika pemberitaan yang paling menonjol adalah berita yang tidak berimbang (22 kasus). Urutan berikutnya adalah mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi (10 kasus), dan berita yang tidak akurat (10 kasus).

Di luar itu masih ada kasus tidak melakukan konfirmasi (6), tidak jelas narasumbernya (4), dan tidak profesional dalam mencari berita (4). Hal lain, selama tahun ini, Dewan Pers juga telah memutuskan 57 kasus pelanggaran kode etik jurnalistik, memediasi kasus (21 buah), dan mengeluarkan pernyataan penilaian dan rekomendasi (PPR) sebanyak 8 buah. Melihat temuan di atas, tampaknya profesionalisme masih menjadi –meminjam istilah Syahrini– “sesuatu” yang harus terus-menerus diperjuangkan. Di sisi lain, sepanjang tahun ini pula, Dewan Pers mengklaim telah mendidik 784 wartawan di seluruh Indonesia.

Sungguh pekerjaan berat memang untuk menegakkan profesionalisme wartawan dan media di republik ini. Apapun, ekspose kinerja tahunan Dewan Pers pantas diapresiasi meski sepi audiens. Sayang, memang….!

Read Full Post »

Selama satu bulan seminggu, 1 Juli – 5 Agustus 2010, saya dan tim menjelajah empat kota –Makassar, Palembang, Semarang, dan Bandung– berjumpa sejumlah akademisi jurnalisme dan komunikasi, serta praktisi media lokal (cetak, elektronik, dan online). Misi utamanya lumayan berat: menggagas pedoman magang di media bagi mahasiswa jurnalistik di seluruh negeri ini.

Hhhhhhhhmmmm…. Unesco Jakarta, berbaik hati mendukung program kantor saya, Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat ini. Ada visi yang sama antara kantor saya dengan Unesco Jakarta. Ingin mendorong sebanyak mungkin kader-kader jurnalis di media yang lebih berkualitas dari waktu ke waktu, yang berasal dari pendidikan jurnalisme di perguruan tinggi. Kebetulan, pada 2007, Unesco meluncurkan sebuah buku tentang pedoman penyusunan kurikulum jurnalisme. Dari buku inilah, workshop penyusunan pedoman magang bagi mahasiswa jurnalistik saya kemas dengan dukungan Unesco Jakarta.

Yang paling mendasar ketika menyebut kata “magang” dalam konteks pendidikan jurnalisme, adalah sebuah proses “berlatih bekerja” sebagai jurnalis –di media cetak, elektronik, dan online– selama kurun waktu tertentu. Magang di sini juga berbeda dan sama sekali tidak menyerupai kegiatan kuliah kerja lapangan (KKL), atau bahkan studi banding, yang acapkali juga diselenggarakan mahasiswa berbagai perguruan tinggi.

(lebih…)

Read Full Post »

Diskusi dan workshop magang di media di Palembang.

Meneruskan roadshow workshop dan diskusi tentang penyusunan panduan magang di media yang sudah diselenggarakan 1 Juli di Makassar, kantor saya kembali menggelar program serupa di Palembang, 20 Juli 2010. Ini adalah putaran kedua kegiatan yang berlangsung atas kerjasama dengan Unesco Jakarta. Sebagai kota yang memiliki penerbitan media cetak relatif cukup banyak, sebutlah misalnya Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, Berita Pagi, Transparan, Radar Palembang, dan Palembang Pos, plus sejumlah televisi lokal dan radio siaran swasta lokal, Palembang masih terbilang miskin perguruan tinggi yang memiliki jurusan jurnalisme. Padahal, di kota inilah untuk pertama kalinya, Sekolah Jurnalisme Indonesia –hasil kolaborasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Pemprov Sumatera Selatan– didirikan.

Sayang, memang. Semestinya sudah sejak lama di Palembang muncul jurusan-jurusan jurnalistik di lembaga-lembaga perguruan tinggi yang ada di Kota Pempek tersebut. Ini sebagai upaya menopang ketersediaan pasokan sumber daya jurnalis andal hasil didikan perguruan tinggi lokal. Setahu saya, hinnga saat ini, Universitas Sriwijaya, sebagai universitas terbesar di Sumsel, masih berjuang untuk melahirkan jurusan jurnalisme di Fakultas ISIP.

(lebih…)

Read Full Post »

Muh Yusuf AR (tengah), menyampaikan pandangan soal magang di media.

Makassar memang kota yang penting. Sebuah kota yang sangat istimewa. Meski kerap dihiasi demo-demo mahasiswa maupun elemen massa lain ketika muncul isu-isu strategis, dan tak jarang berakhir dengan pembakaran ban-ban bekas di jalan raya, toh, suasana Makassar secara umum tetaplah aman tenteram. Aman terkendali, meminjam istilah kawan-kawan aparat. “Itulah istimewanya kami di Makassar,” kata seorang kawan dari Makassar TV menggambarkan suasana Makassar yang kelihatan mencekam bagi orang-orang dari luar Makassar saat terjadi demo.

Nilai keistimewaan itulah yang membuat kantor saya dan Unesco pun memutuskan pergi ke Makassar untuk mengawali sebuah “gawe” besar: merancang panduan model magang mahasiswa jurnalistik di media. SPS Pusat dan Unesco tahun ini bekerjasama menyelenggarakan diskusi dan workshop di 4 kota untuk mencari masukan bagi penyusunan panduan magang tersebut. Tepat hari Polri, 1 Juli 2010, kantor saya melanjutkan kegiatan sebelumnya di Makassar, dengan menggelar diskusi dan workshop yang diikuti 26 orang. Mereka berasal dari praktisi jurnalisme media cetak, televisi, dan radio, serta sejumlah akademisi. Diantaranya dari TVRI, RRI, Makassar TV, Universitas Hasanuddin, Universitas Fajar, Harian Fajar, Fajar Pendidikan, PWI Cabang Sulsel, dan AJI Makassar.

Cukup beragam peserta workshop kali ini, yang menghadirkan pula dua narasumber lokal –Muhammad Yusuf AR (Wapemred Fajar) dan Muliadi Mau (Dosen FISIP Unhas)– serta narasumber nasional¬† Zulkarimen Nasution (Direktur Eksekutif School of Journalism).

(lebih…)

Read Full Post »

Diskusi bedah buku SPS dengan Unesco di Medan, 18 November 2009.

Meneruskan agenda diskusi bedah buku Unesco bertajuk “Panduan Manual Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jurnalisme” yang sudah diselenggarakan kantor saya bersama Unesco di Jakarta (20/10) dan Surabaya (27/10), saya pun berangkat ke Medan, untuk mengawal acara serupa tanggal 18 November 2009. Sehari sebelumnya saya sudah berada di kota “bolu Meranti” ini, untuk menyiapkan acara tersebut bersama seorang kawan dari kantor, Siswanto.

Setiap kali membuat acara kantor di Medan, selalu menyenangkan suasananya. Ada gairah tersendiri di sini. Sambutan kawan-kawan peserta yang kebanyakan para pengelola penerbit media cetak lokal, selalu antusias. Betapa tidak. Di kota ini, sekitar 20 suratkabar harian terbit secara rutin, termasuk tiga legenda hidup koran Sumatera Utara –Analisa, Waspada, dan Sinar Indonesia Baru.

Ketiga koran itu mewakili gambaran besar tentang profil pembaca koran di Sumatera Utara yang tercermin dari kategori masyarakat pebisnis keturunan Tionghoa (Analisa), kelas menengah pegawai negeri sipil dan kaum akademis plus aktivis nasionalis (Waspada), serta masyarakat kaum agamis Protestan (SIB). Di luar ketiga koran itu, sebenarnya ada beberapa koran penantang yang patut diperhitungkan seperti Sumut Pos dan Pos Metro Medan milik kelompok Jawa Pos, maupun Mimbar Umum.

Selebihnya, rata-rata koran-koran harian di Sumatera Utara terbit dengan penetrasi pembaca di bawah ketiga pemain utama tadi. Justru di sinilah, kompetisi antar pemain koran di Sumut menjadi sangat ketat. Catatan saya menunjukkan, jumlah penerbit koran harian di Sumut merupakan terbanyak kedua setelah Jakarta. Sayangnya, jumlah penerbit koran sebanyak itu tidak diimbangi oleh populasi sumber daya pers yang memadai pula. Baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

(lebih…)

Read Full Post »

SPS - Unesco @ Sby-3

Sirikit Syah, memberikan pandangannya tentang buku Unesco.

Senin (26/10) sore itu, saya sangat bergegas untuk segera keluar dari hotel Millenium. Saya harus mengejar pesawat ke Surabaya yang terjadwal Pk. 18.00 WIB. Saat itu, saya baru saja usai menyampaikan presentasi di depan forum evaluasi tahunan Perpustakaan Nasional dalam rangka sosialisasi UU No. 4/1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR). Hhhhmmmm… seperti kebiasaan banyak orang di republik ini, presentasi saya mulai molor 1 jam dari jadwal semula yang pukul 14.00 WIB.

Presentasi itu pun saya lakukan dengan ngebut, karena –saya perkirakan– harus tuntas paling lambat pukul 16.00 WIB, agar cukup waktu buat saya untuk meluncur ke airport. Usai presentasi, lihat hasilnya di postingan sebelumnya (Menarik Penerbit Patuhi UU SSKCKR), beberapa peserta sempat mengajak saya berdiskusi. Bahkan, saya pun sempat bertemu delegasi dari Perpustakaan Daerah Istimewa Jogjakarta. Jadi serasa berada di “kampung halaman”, nich, pikir saya senyum-simpul.

Sayangnya, saya tak punya waktu banyak berdiskusi dengan teman-teman baru itu. Kartu nama pun saya berikan kepada sebagian dari mereka, untuk keperluan korespondensi lebih lanjut.

Singkat cerita, saya segera ngabur ke luar hotel mencari taxi untuk membawa saya ke Cengkareng. Ppppppffffffff…. Jam di tangan saya sudah menunjuk waktu 16.30 WIB. Uppppssssss…. “Pak, tolong ngebut dikit kalo bisa,” perintah saya kepada sang driver taxi.Daaaaaaaaannnnn…. Persis 30 menit jelang closing, saya pun sampai di depan counter check in GA di Soekarno-Hatta.

Sore itu saya harus terbang ke Surabaya untuk mengawal acara diskusi buku Panduan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jurnalisme terbitan Unesco yang diselenggarakan esok harinya (27/10) di hotel Sahid. Bersama seorang kawan dari kantor, akhirnya kami terbang ontime menuju Surabaya, yang ditempuh selama 70 menit dengan pesawat Boeing 737-800 NG milik Garuda Indonesia.

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »