Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2009

Krisis konten…

Mengapa oplah media cetak tidak juga kunjung naik signifikan dalam kurun 5 tahun terakhir? Banyak faktor bisa dibeber. Salah satunya justru bermuara dari konten. Banyak penerbit koran, tabloid, dan majalah tidak sadar, pun di Indonesia, bahwa mereka kini sedang memasuki masa krisis. Ya, krisis konten. Tak percaya, mari kita buktikan. Seorang pelajar SMA di Bali pernah saya tanya, apa koran utama yang ia baca tiap hari? Jawabnya cukup mengejutkan. Ia justru menyebut sebuah merek koran dari Jawa Timur dan koran nasional. Lho, mengapa bukan membaca koran lokal utama di Bali? “Soalnya beritanya ‘gitu-gitu saja’, kurang menggigit,” akunya.

Ini bukan cerita fiktif. Ini adalah sebuah gejala. Tak cuma terjadi di Bali. Saya menemui respons senada di beberapa kota yang lain. Di Balikpapan, di Jogja, di Medan, di Pekanbaru. Di mana-mana, nyaris di semua kota besar di negeri ini. Kesimpulan mereka sama: isi koran kini tak menarik lagi. Hanya mewartakan kejadian. Bukan mengungkap kejadian dan menceritakannya kepada pembaca. Apalagi, beritanya “basi”.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Belakangan ini, saya sangat intensif mengamati “kesibukan” kawan-kawan saya yang sudah menjadi jaringan “pertemanan” dalam situs jaringan sosial Facebook yang saya ikuti. Sesungguhnya, saya sendiri tidak terlalu agresif menambah jaringan teman. Atau, mungkin karena saya masih malas melakukan, dan lebih senang menjadi “pengamat kesibukan” teman-teman saya saja. Hehehehehee…

Ada yang menarik dari apa yang terjadi pada “kesibukan” teman-teman saya di Facebook itu. Nyaris saban hari, ada “change” di sana. Mulai dari mengganti status, misalnya dikabarkan sedang “otw menuju kantor tapi mengalami kemacetan di jalan”, hingga status tentang “suasana hati yang sedang galau ditinggal pacar baru saja”. Ada juga yang memiliki status lebih serius, seperti¬† membuat pertanyaan retoris tentang bagaimana situasi bisnis dan pemasaran 2009, lebih gawat atau aman?.

Tak berhenti soal “change their status”. Kawan-kawan saya itu juga kerap membuat “note”. Dari mulai hal-hal ringan soal kejadian usai bangun tidur dengan cerita mimpi (buruk atau manis) semalam, sampai “note” tentang persoalan-persoalan kebangsaan. Tampilan foto juga kadang berubah. Bahkan, foto-foto keren terbaru kawan-kawan saya ini, tak alpa juga acap diposting. Gejala narsiskah??? Saya tidak tahu pasti….!!! Atau karena saya juga mulai terkena sindroma serupa. Hahahahahahaa…..

(lebih…)

Read Full Post »

Change (2)…

Dari mana harus memulai “change”? Ini adalah pertanyaan paling krusial, termasuk di sektor industri media. Dalam sebuah organisasi, saya kira komando “change” harus tetaplah dimulai dari komandan.¬† Seberapa besar dan jauh awak kapal melakukan perubahan, kalaulah “kapten kapal” tidak ikut tergerak, sulit berharap change itu akan bermakna besar bagi organisasi itu.

Mari kita masukkan dalam konteks organisasi penerbitan pers atau media cetak. Apa sesungguhnya problem klasik yang dimiliki industri media cetak sejak kira-kira satu dekade terakhir? Dari banyak dikusi dengan kawan-kawan serta mencermati berbagai riset Nielsen, ada dua kendala klasik. Pertama, pergerakan oplah media cetak yang relatif mandeg alias stagnan. Kedua, porsi kue iklan yang masih sangat jauh tertinggal dibanding porsi televisi.

Seorang kawan yang biasa memberikan training bagi orang-orang pemasaran media cetak cerita kepada saya. Suatu hari, katanya, dia memberikan training mengenai peta pasar media di Indonesia. Lalu muncul pertanyaan dari seorang peserta. “Apa kira-kira faktor yang menyebabkan oplah koran kami tidak pernah tumbuh signifikan selama 1o tahun ini? Saya ingin jawaban pendek dan tidak teoritis,” pinta orang tersebut.

Kawan trainer tadi, sempat tercekat sejenak mendapati pertanyaan unik tadi. “Hhhhhhhhmmmm, kalau bapak ingin jawaban pendek dari saya dan tidak ingin jawaban teoritis, maka, jawabannya adalah kembali ke teori (sirkulasi),” respons si trainer tadi dengan meyakinkan.

(lebih…)

Read Full Post »

Change (1)…

Tahun lalu, saya mendengar begitu banyak orang meneriakkan slogan “change” (perubahan). Bahkan, hingga Barack “Barry” Obama pun memanfaatkan “Change” sebagai sumber inspirasi kampanye presiden dia. “We need a change.” Mungkin kira-kira begitu, kata banyak orang, termasuk teriakan Obama meyakinkan calon konstituennya. Pada akhirnya, Obama pun terpilih menjadi Presiden AS dan akan dilantik tanggal 20 Januari ini. Apakah itu gara-gara “change” yang ia teriakkan? Boleh jadi demikian.

“Change” dalam arti sebenarnya, buat saya justru saat ini tengah berlangsung. Dunia sedang benar-benar mengalami “change” akibat ulah kredit macet perumahan di negerinya Obama sendiri. Bermula dari sanalah, seluruh dunia kini kena imbasnya. Tatanan finansial global pun berubah. Imbasnya, media pun berubah. Industri media di sini, pun membutuhkan “change”, jika tak ingin tergerus oleh krisis finansial global ini sendiri, atau tertatih-tatih ditinggal pesaingnya di pasar.

(lebih…)

Read Full Post »