Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2010

Diskusi dan workshop magang di media di Palembang.

Meneruskan roadshow workshop dan diskusi tentang penyusunan panduan magang di media yang sudah diselenggarakan 1 Juli di Makassar, kantor saya kembali menggelar program serupa di Palembang, 20 Juli 2010. Ini adalah putaran kedua kegiatan yang berlangsung atas kerjasama dengan Unesco Jakarta. Sebagai kota yang memiliki penerbitan media cetak relatif cukup banyak, sebutlah misalnya Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, Berita Pagi, Transparan, Radar Palembang, dan Palembang Pos, plus sejumlah televisi lokal dan radio siaran swasta lokal, Palembang masih terbilang miskin perguruan tinggi yang memiliki jurusan jurnalisme. Padahal, di kota inilah untuk pertama kalinya, Sekolah Jurnalisme Indonesia –hasil kolaborasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Pemprov Sumatera Selatan– didirikan.

Sayang, memang. Semestinya sudah sejak lama di Palembang muncul jurusan-jurusan jurnalistik di lembaga-lembaga perguruan tinggi yang ada di Kota Pempek tersebut. Ini sebagai upaya menopang ketersediaan pasokan sumber daya jurnalis andal hasil didikan perguruan tinggi lokal. Setahu saya, hinnga saat ini, Universitas Sriwijaya, sebagai universitas terbesar di Sumsel, masih berjuang untuk melahirkan jurusan jurnalisme di Fakultas ISIP.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Muh Yusuf AR (tengah), menyampaikan pandangan soal magang di media.

Makassar memang kota yang penting. Sebuah kota yang sangat istimewa. Meski kerap dihiasi demo-demo mahasiswa maupun elemen massa lain ketika muncul isu-isu strategis, dan tak jarang berakhir dengan pembakaran ban-ban bekas di jalan raya, toh, suasana Makassar secara umum tetaplah aman tenteram. Aman terkendali, meminjam istilah kawan-kawan aparat. “Itulah istimewanya kami di Makassar,” kata seorang kawan dari Makassar TV menggambarkan suasana Makassar yang kelihatan mencekam bagi orang-orang dari luar Makassar saat terjadi demo.

Nilai keistimewaan itulah yang membuat kantor saya dan Unesco pun memutuskan pergi ke Makassar untuk mengawali sebuah “gawe” besar: merancang panduan model magang mahasiswa jurnalistik di media. SPS Pusat dan Unesco tahun ini bekerjasama menyelenggarakan diskusi dan workshop di 4 kota untuk mencari masukan bagi penyusunan panduan magang tersebut. Tepat hari Polri, 1 Juli 2010, kantor saya melanjutkan kegiatan sebelumnya di Makassar, dengan menggelar diskusi dan workshop yang diikuti 26 orang. Mereka berasal dari praktisi jurnalisme media cetak, televisi, dan radio, serta sejumlah akademisi. Diantaranya dari TVRI, RRI, Makassar TV, Universitas Hasanuddin, Universitas Fajar, Harian Fajar, Fajar Pendidikan, PWI Cabang Sulsel, dan AJI Makassar.

Cukup beragam peserta workshop kali ini, yang menghadirkan pula dua narasumber lokal –Muhammad Yusuf AR (Wapemred Fajar) dan Muliadi Mau (Dosen FISIP Unhas)– serta narasumber nasionalĀ  Zulkarimen Nasution (Direktur Eksekutif School of Journalism).

(lebih…)

Read Full Post »

Sekjen SPS Pusat (kiri), membuka lokakarya manajemen pers di Makassar.

Setiap kali mengunjungi Makassar, selalu membawa kesan mendalam bagi saya. Pun kali ini, sebagai kunjungan pertama di tahun 2010. Pekan lalu, 30 Juni 2010, kantor saya menyelenggarakan sebuah event lokakarya manajemen pers bagi para penerbit media cetak se-wilayah Sulawesi Selatan di Makassar. Acara ini juga dirangkai dengan musyawarah cabang Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Cabang Sulawesi Selatan.

Akibat cukup seringnya bertandang ke Makassar, maka saya sudah cukup hafal dengan sejumlah praktisi penerbit pers di kota Anging Mamiri itu. Apalagi, meskipun termasuk kota metropolitan, populasi media cetak di Makassar dan Sulawesi Selatan secara umum, tidak sebanyak di kota-kota metropolitan lainnya. Bahkan, dengan Palembang saja, jumlah penerbit koran harian di Makassar, masih tertinggal. Praktis di Makassar kini hanya terdapat empat koran harian: Fajar, Tribun Timur, Ujungpandang Ekspres, dan Berita Kota.

Dulu, masih ada sebuah harian yang sangat legendaris yang dimiliki keluarga Manuhua, yakni Harian Pedoman. Sayang… koran itu sudah almarhum sekitar 2 tahun lalu. Kalaulah ada koran-koran harian lain di Sulawesi Selatan, mereka menyebar di Pare-pare, Palopo, dan Bulukumba. Selebihnya, penerbitan pers di Makassar didominasi oleh keberadaan suratkabar mingguan dan bulanan yang mencapai lk 17 penerbit.

(lebih…)

Read Full Post »