Feeds:
Pos
Komentar

Sore kemarin, Kamis (27/1), saya menghadiri undangan dari Lembaga Penyiaran Pubik (LPP) RRI di auditorium RRI, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Undangan itu bertajuk peluncuran Kantor Berita Radio Nasional (KBRN) milik RRI. Awalnya, seperti menghadiri undangan-undangan peluncuran produk dan jasa baru dari sebuah korporasi atau lembaga, tidak ada hal mengejutkan yang saya jumpai. Launching diawali dialog interaktif yang disiarkan langsung RRI Pro-3 secara nasional dengan menghadirkan pembicara Freddy Tulung (Dirjen Komunikasi Publik Kemenkominfo), Buya Syafii Ma’arif (mantan Ketua PP Muhammadiyah), Agum Gumelar (Ketua Umum Pepabri), Adrinof Chaniago (UI), dan Rosarita Niken Widiastuti (Direktur Utama LPP RRI).

Usai dialog, saya dan para tamu undangan dipersilakan menuju lantai 7 gedung utama, di lantai Pusat Pemberitaan RRI, untuk meneruskan seremoni peluncuran KBRN RRI. Seremoni lazimnya pun dilakukan. Pidato, memotong tumpeng, dan tentu saja melongok ruangan newsroom Pusat Pemberitaan RRI. Ketika seremoni sudah usai, dan menunggu giliran turun melalui lift, saya menjumpai kejutan pertama. Kejutan itu adalah sosok Adnan Iskandar, seorang praktisi periklanan nasional, yang pernah menjabat ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) DKI Jakarta.

Saya mendekat, menepuk pundak Adnan lalu mengulurkan tangan hendak berjabat. Ia pun terkejut mendapati saya berada di ruangan itu. Sejurus kemudian, meluncurlah cerita singkat tentang kronologi ia berada di ruangan itu. “Saya sekarang di sini,” ujarnya membuka cerita. Hhhhhmmmm… Saya menyahut polos, “Jadi konsultan RRI ya.. Baguslah kalo RRI punya konsultan seperti Anda, biar lebih fresh penampilannya dan makin berkembang.” Adnan menukas cepat. “Bukan, boss… Aku sekarang jadi salah satu direksi, diutus oleh PPPI.” Wowww…!!! Rada tercekat saya mendengarnya. Belum banyak kami bercerita, karena dia pun segera akan menjauh untuk menjumpai tamu-tamu yang lain, dari jarak kira-kira 5 meter, saya melihat sosok yang akrab saya kenal. Dan sosok itulah yang membuat saya kembali memperoleh kejutan kedua.

Lanjut Baca »

Iklan

Revenue generation dari mobile newspaper sangat menjanjikan.

Perdebatan soal eksistensi media cetak vs media online (digital), selayaknya kini harus dihentikan. Pertama, jelas tidak produktif; dan kedua, perdebatan itu hanya akan menghabiskan energi kreatif dan inovasi yang semestinya dikembangkan bersama-sama antara penerbit media cetak dan penyelenggara layanan digital. Awalnya, masih banyak orang ragu, bahwa ekspansi konten media cetak ke multi-platform digital dan mobile, akan mendorong kehancuran dan kebangkrutan media cetak. Faktanya? Tidak juga…! Meski sirkulasi koran, majalah, dan tabloid dalam kurun 10 tahun terakhir sulit beranjak positif, bahkan kadang minus 1 – 2 persen, tapi volume iklan media cetak terus berkembang.

Kecemasan bahwa ekspansi konten media cetak ke multiplatform tidak akan menghasilan pendapatan baru (revenue generation), juga salah sama sekali. Tahun 2010 lalu, total kue iklan yang diperoleh media online, termasuk penerbit cetak yang memiliki web portal, berkisar Rp 150 milyar. Dari jumlah itu, sekitar 60 persen diraup oleh Detik.com dan Kompas.com. Selebihnya diperebutkan oleh Okezone, Vivanews, Kaskus, Yahoo Indonesia, Google Indonesia, Tempo Interaktif, dll. Bahkan dalam kasus Kompas, seluruh revenue yang diperoleh Kompas digital dan mobile, mencapai 6 persen dari total iklan yang diperoleh Kompas cetak. Paling tidak, itulah pengakuan Edi Taslim, Wakil Direktur Bisnis Kompas, dalam seminar Media Industry Outlook (MIO) 2011 yang digelar Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, Rabu (26/1), di Jakarta Media Center, Gedung Dewan Pers, Jakarta.

Lanjut Baca »

Selama satu bulan seminggu, 1 Juli – 5 Agustus 2010, saya dan tim menjelajah empat kota –Makassar, Palembang, Semarang, dan Bandung– berjumpa sejumlah akademisi jurnalisme dan komunikasi, serta praktisi media lokal (cetak, elektronik, dan online). Misi utamanya lumayan berat: menggagas pedoman magang di media bagi mahasiswa jurnalistik di seluruh negeri ini.

Hhhhhhhhmmmm…. Unesco Jakarta, berbaik hati mendukung program kantor saya, Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat ini. Ada visi yang sama antara kantor saya dengan Unesco Jakarta. Ingin mendorong sebanyak mungkin kader-kader jurnalis di media yang lebih berkualitas dari waktu ke waktu, yang berasal dari pendidikan jurnalisme di perguruan tinggi. Kebetulan, pada 2007, Unesco meluncurkan sebuah buku tentang pedoman penyusunan kurikulum jurnalisme. Dari buku inilah, workshop penyusunan pedoman magang bagi mahasiswa jurnalistik saya kemas dengan dukungan Unesco Jakarta.

Yang paling mendasar ketika menyebut kata “magang” dalam konteks pendidikan jurnalisme, adalah sebuah proses “berlatih bekerja” sebagai jurnalis –di media cetak, elektronik, dan online– selama kurun waktu tertentu. Magang di sini juga berbeda dan sama sekali tidak menyerupai kegiatan kuliah kerja lapangan (KKL), atau bahkan studi banding, yang acapkali juga diselenggarakan mahasiswa berbagai perguruan tinggi.

Lanjut Baca »

Diskusi dan workshop magang di media di Palembang.

Meneruskan roadshow workshop dan diskusi tentang penyusunan panduan magang di media yang sudah diselenggarakan 1 Juli di Makassar, kantor saya kembali menggelar program serupa di Palembang, 20 Juli 2010. Ini adalah putaran kedua kegiatan yang berlangsung atas kerjasama dengan Unesco Jakarta. Sebagai kota yang memiliki penerbitan media cetak relatif cukup banyak, sebutlah misalnya Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, Berita Pagi, Transparan, Radar Palembang, dan Palembang Pos, plus sejumlah televisi lokal dan radio siaran swasta lokal, Palembang masih terbilang miskin perguruan tinggi yang memiliki jurusan jurnalisme. Padahal, di kota inilah untuk pertama kalinya, Sekolah Jurnalisme Indonesia –hasil kolaborasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Pemprov Sumatera Selatan– didirikan.

Sayang, memang. Semestinya sudah sejak lama di Palembang muncul jurusan-jurusan jurnalistik di lembaga-lembaga perguruan tinggi yang ada di Kota Pempek tersebut. Ini sebagai upaya menopang ketersediaan pasokan sumber daya jurnalis andal hasil didikan perguruan tinggi lokal. Setahu saya, hinnga saat ini, Universitas Sriwijaya, sebagai universitas terbesar di Sumsel, masih berjuang untuk melahirkan jurusan jurnalisme di Fakultas ISIP.

Lanjut Baca »

Muh Yusuf AR (tengah), menyampaikan pandangan soal magang di media.

Makassar memang kota yang penting. Sebuah kota yang sangat istimewa. Meski kerap dihiasi demo-demo mahasiswa maupun elemen massa lain ketika muncul isu-isu strategis, dan tak jarang berakhir dengan pembakaran ban-ban bekas di jalan raya, toh, suasana Makassar secara umum tetaplah aman tenteram. Aman terkendali, meminjam istilah kawan-kawan aparat. “Itulah istimewanya kami di Makassar,” kata seorang kawan dari Makassar TV menggambarkan suasana Makassar yang kelihatan mencekam bagi orang-orang dari luar Makassar saat terjadi demo.

Nilai keistimewaan itulah yang membuat kantor saya dan Unesco pun memutuskan pergi ke Makassar untuk mengawali sebuah “gawe” besar: merancang panduan model magang mahasiswa jurnalistik di media. SPS Pusat dan Unesco tahun ini bekerjasama menyelenggarakan diskusi dan workshop di 4 kota untuk mencari masukan bagi penyusunan panduan magang tersebut. Tepat hari Polri, 1 Juli 2010, kantor saya melanjutkan kegiatan sebelumnya di Makassar, dengan menggelar diskusi dan workshop yang diikuti 26 orang. Mereka berasal dari praktisi jurnalisme media cetak, televisi, dan radio, serta sejumlah akademisi. Diantaranya dari TVRI, RRI, Makassar TV, Universitas Hasanuddin, Universitas Fajar, Harian Fajar, Fajar Pendidikan, PWI Cabang Sulsel, dan AJI Makassar.

Cukup beragam peserta workshop kali ini, yang menghadirkan pula dua narasumber lokal –Muhammad Yusuf AR (Wapemred Fajar) dan Muliadi Mau (Dosen FISIP Unhas)– serta narasumber nasionalĀ  Zulkarimen Nasution (Direktur Eksekutif School of Journalism).

Lanjut Baca »

Sekjen SPS Pusat (kiri), membuka lokakarya manajemen pers di Makassar.

Setiap kali mengunjungi Makassar, selalu membawa kesan mendalam bagi saya. Pun kali ini, sebagai kunjungan pertama di tahun 2010. Pekan lalu, 30 Juni 2010, kantor saya menyelenggarakan sebuah event lokakarya manajemen pers bagi para penerbit media cetak se-wilayah Sulawesi Selatan di Makassar. Acara ini juga dirangkai dengan musyawarah cabang Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Cabang Sulawesi Selatan.

Akibat cukup seringnya bertandang ke Makassar, maka saya sudah cukup hafal dengan sejumlah praktisi penerbit pers di kota Anging Mamiri itu. Apalagi, meskipun termasuk kota metropolitan, populasi media cetak di Makassar dan Sulawesi Selatan secara umum, tidak sebanyak di kota-kota metropolitan lainnya. Bahkan, dengan Palembang saja, jumlah penerbit koran harian di Makassar, masih tertinggal. Praktis di Makassar kini hanya terdapat empat koran harian: Fajar, Tribun Timur, Ujungpandang Ekspres, dan Berita Kota.

Dulu, masih ada sebuah harian yang sangat legendaris yang dimiliki keluarga Manuhua, yakni Harian Pedoman. Sayang… koran itu sudah almarhum sekitar 2 tahun lalu. Kalaulah ada koran-koran harian lain di Sulawesi Selatan, mereka menyebar di Pare-pare, Palopo, dan Bulukumba. Selebihnya, penerbitan pers di Makassar didominasi oleh keberadaan suratkabar mingguan dan bulanan yang mencapai lk 17 penerbit.

Lanjut Baca »