Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2011

Sore kemarin, Kamis (27/1), saya menghadiri undangan dari Lembaga Penyiaran Pubik (LPP) RRI di auditorium RRI, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Undangan itu bertajuk peluncuran Kantor Berita Radio Nasional (KBRN) milik RRI. Awalnya, seperti menghadiri undangan-undangan peluncuran produk dan jasa baru dari sebuah korporasi atau lembaga, tidak ada hal mengejutkan yang saya jumpai. Launching diawali dialog interaktif yang disiarkan langsung RRI Pro-3 secara nasional dengan menghadirkan pembicara Freddy Tulung (Dirjen Komunikasi Publik Kemenkominfo), Buya Syafii Ma’arif (mantan Ketua PP Muhammadiyah), Agum Gumelar (Ketua Umum Pepabri), Adrinof Chaniago (UI), dan Rosarita Niken Widiastuti (Direktur Utama LPP RRI).

Usai dialog, saya dan para tamu undangan dipersilakan menuju lantai 7 gedung utama, di lantai Pusat Pemberitaan RRI, untuk meneruskan seremoni peluncuran KBRN RRI. Seremoni lazimnya pun dilakukan. Pidato, memotong tumpeng, dan tentu saja melongok ruangan newsroom Pusat Pemberitaan RRI. Ketika seremoni sudah usai, dan menunggu giliran turun melalui lift, saya menjumpai kejutan pertama. Kejutan itu adalah sosok Adnan Iskandar, seorang praktisi periklanan nasional, yang pernah menjabat ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) DKI Jakarta.

Saya mendekat, menepuk pundak Adnan lalu mengulurkan tangan hendak berjabat. Ia pun terkejut mendapati saya berada di ruangan itu. Sejurus kemudian, meluncurlah cerita singkat tentang kronologi ia berada di ruangan itu. “Saya sekarang di sini,” ujarnya membuka cerita. Hhhhhmmmm… Saya menyahut polos, “Jadi konsultan RRI ya.. Baguslah kalo RRI punya konsultan seperti Anda, biar lebih fresh penampilannya dan makin berkembang.” Adnan menukas cepat. “Bukan, boss… Aku sekarang jadi salah satu direksi, diutus oleh PPPI.” Wowww…!!! Rada tercekat saya mendengarnya. Belum banyak kami bercerita, karena dia pun segera akan menjauh untuk menjumpai tamu-tamu yang lain, dari jarak kira-kira 5 meter, saya melihat sosok yang akrab saya kenal. Dan sosok itulah yang membuat saya kembali memperoleh kejutan kedua.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Revenue generation dari mobile newspaper sangat menjanjikan.

Perdebatan soal eksistensi media cetak vs media online (digital), selayaknya kini harus dihentikan. Pertama, jelas tidak produktif; dan kedua, perdebatan itu hanya akan menghabiskan energi kreatif dan inovasi yang semestinya dikembangkan bersama-sama antara penerbit media cetak dan penyelenggara layanan digital. Awalnya, masih banyak orang ragu, bahwa ekspansi konten media cetak ke multi-platform digital dan mobile, akan mendorong kehancuran dan kebangkrutan media cetak. Faktanya? Tidak juga…! Meski sirkulasi koran, majalah, dan tabloid dalam kurun 10 tahun terakhir sulit beranjak positif, bahkan kadang minus 1 – 2 persen, tapi volume iklan media cetak terus berkembang.

Kecemasan bahwa ekspansi konten media cetak ke multiplatform tidak akan menghasilan pendapatan baru (revenue generation), juga salah sama sekali. Tahun 2010 lalu, total kue iklan yang diperoleh media online, termasuk penerbit cetak yang memiliki web portal, berkisar Rp 150 milyar. Dari jumlah itu, sekitar 60 persen diraup oleh Detik.com dan Kompas.com. Selebihnya diperebutkan oleh Okezone, Vivanews, Kaskus, Yahoo Indonesia, Google Indonesia, Tempo Interaktif, dll. Bahkan dalam kasus Kompas, seluruh revenue yang diperoleh Kompas digital dan mobile, mencapai 6 persen dari total iklan yang diperoleh Kompas cetak. Paling tidak, itulah pengakuan Edi Taslim, Wakil Direktur Bisnis Kompas, dalam seminar Media Industry Outlook (MIO) 2011 yang digelar Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, Rabu (26/1), di Jakarta Media Center, Gedung Dewan Pers, Jakarta.

(lebih…)

Read Full Post »