Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2009

Berapa sich sebenarnya waktu yang dihabiskan orang di Indonesia untuk membaca koran? Banyak premis awal yang mengatakan bahwa waktu untuk membaca koran kini semakin berkurang. Apalagi sejak kian populernya internet di sini yang dengan mudah bisa diakses pula melalui mobile phone. Cuma, berapa angka definitifnya? Sejumlah sumber riset bisa mengatakan berbeda-beda.

Nah, bulan Juni lalu Serikat Penerbit Suratkabar Pusat (SPS) Pusat, asosiasinya penerbit media cetak seluruh Indonesia, melakukan survei mengenai Masa Depan Media Cetak. Apakah media cetak masih akan berumur panjang? Apakah media cetak bakal segera digusur oleh internet? Apa pula rubrik yang disukai pembaca dari media cetak? Seberapa efektif pula iklan di media cetak dibanding di TV dan online?

Dari sekian pertanyaan penting yang diajukan kepada 3000 responden survei ini di 15 kota, adalah berapa lama orang membaca koran, majalah, dan tabloid setiap minggu?

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Siapa yang paling diuntungkan dari kesuksesan penyelenggaraan pemilu legislatif maupun pemilu presiden-wakil presiden 2009? Nomor satu adalah media..!!! Para pengamat politik boleh bicara bahwa keberhasilan melewati dua momen nasional itu adalah bukti dari kemenangan demokrasi. Itu memang betul. Tapi dari dimensi yang lain, saya melihat pesta demokrasi yang baru usai ini adalah bukti lain dari kemenangan media.

Cobalah amati baik-baik. Nyaris tidak ada partai politik peserta pemilu dan calon presiden (capres)/calon wakil presiden (cawapres) yang melewatkan kampanye mereka tanpa menggunakan media. Baik lewat guyuran iklan yang dipasang tiap hari tiada henti, maupun lewat aktivitas kehumasan yang berwujud pemberitaan di pelbagai media. Saya lalu berpikir, inikah salah satu berkah dari kedigdayaan media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) demokrasi? Hhhhhhhhhmmmmm…. Bisa jadi ya…!!!

Media –televisi, radio, online, maupun cetak– benar-benar “berpesta” selama masa pemilihan umum berlangsung. Kontribusi iklan politik sepanjang masa pemilu legislatif dan presiden tak bisa dianggap enteng. Selama satu kuartal saja, Januari – Maret 2009, menurut data Nielsen Indonesia, iklan-iklan macam itu telah menyumbang sebesar Rp 1,1 triliun bagi media. Jumlah itu sudah sama dengan separuh dari belanja iklan partai politik dan lembaga pemerintah sepanjang tahun 2008 yang mencapai Rp 2,2 triliun. Woooooooowwwww….!!!

Dari pengeluaran selama kuartal I 2009 itu, sekitar Rp 739 miliar diantaranya dinikmati oleh media cetak. Stasiun televisi kebagian kira-kira Rp 316 miliar.

(lebih…)

Read Full Post »

Ada banyak orang yang suka salah kaprah dalam menilai kinerja media cetak di tanah air, khususnya menyangkut sirkulasi dan oplah. Jamak diketahui, para penerbit media cetak di Indonesia, enggan menggunakan pendekatan sirkulasi (oplah terjual) dalam mengukur penetrasi pasar mereka kepada pembaca dan pelanggan. Istilah yang lebih mereka sukai adalah oplah (jumlah eksemplar tercetak). Atau istilah lain yakni tingkat kepembacaan (readership) yang mengacu pada data Nielsen Indonesia. Nielsen setiap tahun memang rajin mengekspose hasil surveinya tentang kepembacaan media cetak di 9 kota besar.

Tak heran, jika ada pertanyaan berapa sirkulasi koran, tabloid, atau majalah Anda? Maka niscaya Anda yang bertanya akan mendapat jawaban jumlah eksemplar tercetak. Bukan jumlah eksemplar terjual. Hohohohoho… Sebenarnya ini agak menyesatkan. Ambil contoh. Sebuah koran harian X yang beredar di Jakarta. Oplahnya katakan 100 ribu eksemplar. Apakah sirkulasi (oplah terjual) akan sebanyak yang tercetak? Jawabnya: belum tentu..!!! Dalam dunia sirkulasi dikenal istilah retur. Yakni eksemplar media yang tidak laku dan dikembalikan kepada penerbit. Belum lagi soal sistem penjualan. Ada yang konsinyasi, ada pula yang jual putus.

(lebih…)

Read Full Post »