Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2009

Ini mungkin cuma survei kecil-kecilan, tidak terlalu ilmiah, dan akurasinya mungkin juga tidak terlalu tinggi. Sungguh pun demikian, paling tidak bisa memberi gambaran tentang perilaku anak-anak muda sekarang, usia 15 – 17 tahun dalam mengkonsumsi media dan internet. Ya…. Tanggal 4 Mei 2009 lalu, saya dan teman-teman dari kantor mensurvei 63 pelajar di Banjarmasin dan Banjarbaru, yang kebetulan sedang mengikuti lomba debat dan menulis artikel tentang APBN dalam tajuk Olimpiade Membaca APBN Tk SMA se-Indonesia (OMASI) 2009, wilayah Kalimantan Selatan di Banjarmasin.

Responden survei ini cuma 63 pelajar, dengan 35 orang diantaranya adalah pelajar perempuan dan selebihnya laki-laki. Yang menggembirakan saya, meskipun banyak asumsi bahwa anak-anak muda sekarang tidak baca koran, tampaknya ini terbantahkan oleh survei ini. Lebih dari separuh, 65 persen, mereka justru membaca koran harian. Walaupun hanya 32 persen yang membacanya tiap hari dan 24 persen membaca seminggu sekali.

Dari mana mereka mendapatkan atau membaca koran harian? Sebagian besar (46 persen) membaca di rumah, dan hanya 18 persen yang beli sendiri. Saya menduga bahwa konsumsi atas koran harian tampaknya masih lebih besar disumbang oleh orang tua responden melihat besarnya perilaku mereka dalam mendapatkan koran tersebut.

Dari sebegitu banyak informasi yang ada di koran, informasi tentang olahraga paling mereka sukai (30 persen), diikuti informasi politik (25 persen), informasi ekonomi dan lokal (14 persen), dan informasi kriminal yang hanya 5 persen. ***

Iklan

Read Full Post »

Pagi ini, (16/6), selagi menyantap sarapan soto mie, saya menerima push chat dari seorang kawan, yang mengabarkan kalau Indonesia masuk ranking delapan atau Top 10, dalam hal pengguna Facebook. Woooooooowwwww…..!!! Menarik banget berita ini. Memang sudah diperkirakan banyak orang, kalau Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan pengguna Facebook paling pesat di Asia Pasifik. Dengan penetrasi pengguna internet yang telah mencapai 35 juta (April, 2009), logikanya pengguna Facebook pun akan cepat terkerek.

Dalam statistik yang juga bisa diakses melalui http://www.checkfacebook.com/ ini, disebutkan bahwa per 15 Juni 2009 –jadi data ini bener-bener masih sangat gress– jumlah pengguna Facebook Indonesia mencapai 5.640.060 orang. Posisi pertama diduduki oleh Amerika Serikat dengan 64 juta pengguna. Berikutnya adalah United Kingdom (17,671 juta), Kanada (11,274 juta), Turki (10,375 juta), Perancis (10,038 juta), Italia (9,675 juta), Australia (5,646 juta). Posisi Indonesia masih lebih baik dibanding Spanyol (5,283 juta) dan Kolombia (5,016 juta).

Adapun dalam satu pekan terakhir, Pakistan mencatatkan pertumbuhan jumlah penguna baru Facebook paling tinggi (prosentase) mencapai 3,65 persen atau setara dengan 24.800 pengguna. Menyusul kemudian adalah Kenya (3,64%), Siprus (3,24%), Swedia (3,23%), Thailand (3,22%), Denmark dan Jamaika (2,82%), Meksiko (2,42%), serta Portugal dan Taiwan dengan masing-masing 2,41%.

(lebih…)

Read Full Post »

Kampanye pilpres memang jadi ajang yang sah untuk unjuk gigi dan menampilkan pelbagai klaim jasa dari para kandidat. Itu pula yang kini sedang terjadi diantara kubu JK – Wiranto dan SBY – Boediono. JK, dalam kampanye di Aceh akhir pekan lalu, Sabtu (13/6), mengklaim jika dirinya yang menandatangani piagam perjanjian perdamaian Helsinki antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Konon, ia pernah minta tanda tangan SBY mengenai pendirian partai lokal di NAD, tapi SBY menolak (lihat Kompas, 14/6).

SBY dan JK adalah pasangan incumbent, namun memutuskan untuk pecah kongsi pada pilpres 2009 karena ketidaksamaan visi mereka dalam mengelola momentum maupun program pembangunan untuk lima tahun ke depan. JK mempersepsikan dirinya “lebih cepat” dibanding SBY dalam mengambil keputusan dan keberanian menerima risiko. Sementara SBY menempatkan dirinya “lebih hati-hati dan berpikir komprehensif” dalam memutus sebuah kebijakan. Karenanya, SBY dinilai sebagian orang terlalu lamban. Tapi, kemenangan partai Demokrat dalam pemilu legislatif 9 April silam, bisa menjadi senjata untuk “membungkam” kritik banyak orang soal kelambanan gaya kepemimpinan SBY ini.

Perdamaian di Aceh yang lahir dari kesepakatan RI – GAM melalui piagam Helsinki, memang mengandung nilai strategis bagi SBY dan JK. Tak syak, adu klaim jasa pun mengemuka. Pagi ini (15/6) di TVOne, dua anggota tim sukses mereka, Bara Hasibuan (SBY – Boediono) dan Ali Mochtar Ngabalin (JK – Wiranto), saling memperdebatkan klaim tersebut.

(lebih…)

Read Full Post »

Menulis, bagi mereka yang telah terbiasa, adalah pekerjaan yang amat mudah. Namun, bagi sebagian besar orang yang bukan profesi penulis atau jurnalis, tentu urusan yang rumit bin sulit. Pun bagi sementara kalangan public relations officer alias humas atau PR.

Sejatinya, setiap PR kudu memiliki ketrampilan menulis dan (sedikit) fotografi. Apalagi, PR selalu dekat dengan urusan terkait hubungan media. Baik dengan media komersial maupun media internal (cetak dan online). Siapa yang harus membuat rilis, jika bukan seorang PR. Siapa pula yang harus mengelola sebuah konferensi pers? Tentu, ini juga tugas para PR. Kalau melihat ruang lingkup tugas ini saja, kemampuan menulis dan memotret, sedikit banyak harus dimiliki PR.

Akhir pekan lalu, 11 – 13 Juni 2009 di Cipanas – Puncak, saya memandu 26 kawan-kawan PR yang mengikuti workshop “Menulis Kreatif bagi PR” yang digelar kantor saya. Mereka berasal dari Batam, Palembang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Banjarmasin, dan Palangkaraya. Sementara, institusinya tersebar dari Otorita Batam, PT PLN (Persero), Badan Pemeriksa Keuangan, Perum Perhutani, Kantor Menko Kesra, Departemen Kesehatan, PT Telkom, Perum PPD, Bank Bumiputera, PT KAI, PT Semen Gresik, dan PT Adaro.

Selama dua malam tiga hari, kawan-kawan PR ini saya ajak untuk menyegarkan kembali pengetahuan mereka mengenai dunia menulis dan fotografi. Wahyu Muryadi (TEMPO), Jonriah Ukur (Blogger), dan Iwan Kurniawan (Fotografer profesional), saya hadirkan untuk menemani teman-teman itu dalam berdiskusi tentang ketrampilan menulis dan memotret.

(lebih…)

Read Full Post »

Perlahan namun pasti, Kelompok Kompas Gramedia (KKG) melalui unit pers daerah (persda) mereka, terus merambah propinsi demi propinsi. Usai memasuki Manado, awal tahun ini, kini mulai Senin (8/6) KKG menyapa publik Lampung dengan menghadirkan Tribun Lampung. Jika dihitung dengan jari, kini genap sudah 17 “armada fregat” KKG menghiasi Nusantara. Mereka adalah Surya (Surabaya), Sriwijaya Post (Palembang), Bangka Pos (Bangka), Pos Belitung (Belitung), Serambi Indonesia dan Prohaba (Banda Aceh), Banjarmasin Post dan Metro Banjar (Banjarmasin), Pos Kupang (Kupang), Tribun Batam (Batam), Tribun Pekanbaru (Pekanbaru), Tribun Pontianak (Pontianak), Tribun Manado (Manado), Tribun Timur (Makassar), Tribun Kaltim (Balikpapan), Tribun Jabar (Bandung), dan Tribun Lampung (Bandar Lampung). Bakal segera menyusul adalah Tribun Jambi.

Tak pelak, kehadiran Tribun Lampung makin meriuhkan suasana persaingan pasar harian di bumi Ruwa Jurai (julukan propinsi Lampung). Asal tahu saja, di propinsi itu, sebelumnya telah bertahta dua koran dari dua kelompok besar –Radar Lampung (Jawa Pos Grup) dan Lampung Post (Media Indonesia Grup). Malahan Radar Lampung terus melebarkan sayap dengan membuka edisi-edisi kota/kabupaten melalui sejumlah koran lokalnya. Antara lain Radar Lamsel, Radar Lamteng, dan Radar Tanggamus.

Sejak satu dekade terakhir, telah terjadi perseteruan klasik dua koran di propinsi ini: Radar Lampung dan Lampung Post. Dua-duanya selalu mengklaim sebagai koran utama atau koran terbaik. Segala trik dan inovasi pun dikembangkan kedua koran itu untuk merebut hati pasar pembaca dan pengiklan lokal maupun nasional. Nah, kini dengan masuknya Tribun Lampung, saya yakin peta persaingan akan mulai berubah. Dinamika pasar koran di Lampung jelas bakal kian meninggi saja. Apalagi jika ditambah sejumlah pemain harian lainnya yang sudah ikut menghiasai pasar koran di Lampung selama ini.

(lebih…)

Read Full Post »