Pernahkan Anda menonton film Laskar Pelangi besutan Riri Reza dan Mira Lesmana? Tentu jawab Anda sudah. Bagaimana dengan bukunya? Sudahkah pula Anda baca? Mungkin sudah, mungkin juga belum. Lalu, mungkinkah bertemu para pemain film Laskar Pelangi, di kampung halaman mereka sendiri, Belitong? Sungguh tidak mudah, bagi kebanyakan kita. Tapi, ketika ada kesempatan berjumpa mereka di Belitong, wow…sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan.
Dan… Itu saya alami kemarin, Rabu (29/6) sekitar pukul 20.00 wib di Tanjungpandan, Belitung. Dengan diantar General Manager Pelindo II Cabang Tanjungpandan, Muhammad Iqbal, saya dan Direktur Keuangan Pelindo II, Dian M Noer, bertandang ke rumah keluarga Yogi, sang pemeran Kucai dalam film Laskar Pelangi, Malam itu, tidak semua pemain Laskar Pelangi yang berjumlah 12 orang hadir di kediaman orang tua Kucai. Hanya tiga orang yang bisa saya jumpai –Yogi, Dewi, dan Suhendri.
Dewi adalah pemeran Sahara, sedangkan Suhendri berperan sebagai A Kiong. Mereka ditemani orang tua masing-masing. Dua pemeran lain, Aling dan Flo, hanya diwakili orang tua mereka. Total ada 3 pemeran utama dan 5 orang tua yang hadir malam itu.
Sejenak memandangi wajah Sahara, Kucai, dan A Kiong, ketiganya sudah berbeda dibanding Oktober 2008 tatkala untuk pertama kalinya Laskar Pelangi diputar di bioskop-bioskop di seluruh penjuru Nusantara. Kucai kini naik kelas XI SMAN 2 Tanjungpandan. Adapun Sahara juga sama, setingkat dengan Kucai namun bersekolah di SMAN 1 Tanjungpandan. Sedangkan A Kiong, naik kelas 3 sebuah SMP di Tanjungpandan.
Tubuh mereka telah membesar seiring bertambahnya usia. A Kiong yang duduk disudut ruang tamu keluarga Kucai yang berukuran seluas 9 meter persegi itu, tampak paling pemalu. Jarang sekali dia buka mulut jika tidak saya tanya. Lain dengan Kucai yang acapkali menimpali pembicaraan saya dengan mereka. Sahara yang duduk di samping kiri ibunya, juga terlihat pendiam.
Obrolan sudah berjalan sekitar satu jam, muncullah ibu Aling. Dia datang memberi kabar jika Aling sedang berada di Jakarta untuk berlibur. Ia lalu ikut duduk disamping ibu A Kiong. Orang tua Aling sehari-hari adalah pemilik sebuah toko material bangunan di Tanjungpandan. Sementara ayah Flo, berprofesi sebagai pendeta. Flo saat ini baru lulus SMP dan rencananya ingin meneruskan sekolah ke sebuah SMA swasta di kotanya. Hhhhhmmmm…
Ditemani sejumlah penganan gorengan dan air mineral, obrolan saya dan mereka merambah ke soal pariwisata. Saya dan Iqbal mengatakan, jika Laskar Pelangi yang hak patennya kini dimiliki Andrea Hirata dan penerbit Bentang, adalah ikon Belitong….
Laskar Pelangi adalah ‘brand’. Sebuah brand yang suka atau tidak suka, ikut mengibarkan nama Belitong mendunia. Melalui media, brand itu mengembara ke mana-mana, menjadikan ribuan wisatawan kini tiap bulan memasuki Belitong. Ingin tahu lebih dalam Negeri Laskar Pelangi. Mereka ingin menikmati keindahan pantai dengan air laut yang masih relatif jernih itu.
Laskar Pelangi tidak boleh hidup sekadar dalam film. Dalam kehidupan nyata, sebaiknya keluarga besar Laskar Pelangi mampu berbuat sesuatu untuk menghidupi diri mereka sendiri, sekaligus memberi kontribusi menghidupi masyarakat sekitar tempat tinggal mereka. Syukur-syukur, mampu ‘menghidupi’ masyarakat Belitong.
Sepertinya muluk-muluk gagasan ini. Namun sebenarnya tidak. Perwujudannya bisa dari ikhtiar sederhana. Misalnya, berjualan kaos bersablon Laskar Pelangi yang dijajakan di bandara, pelabuhan, dan lokasi-lokasi wisata di seluruh Belitong. Keluarga besar Laskar Pelangi yang masih kerap berkumpul secara berkala ini, bisa menjadi pelaku langsung. Atau bisa sekadar mengelola pembuatan kaos bersablon tersebut, lalu memasarkannya di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan.
Cepat atau lambat, kalo mereka tidak bergerak, akan ada orang yang memanfaatkan situasi ini, berjualan kaos sablon Laskar Pelangi. Meskipun orang-orang itu pasti tidak memiliki hak jual dari sang pemilik hak paten –Andrea Hirata dan Penerbit Bentang. Lain halnya jika yang membuat dan memasarkannya keluarga besar Laskar Pelangi. Mereka bisa meminta izin ke Andrea dan Bentang untuk hal ini. Lalu mereka memasarkannya. Ada legitimasi dari pemegang paten. Sekaligus kredibilitas dari pembeli.
Tentu akan berbeda kesan dan persepsinya, jika Anda membeli kaos bersablon Laskar Pelangi dari orang lain dibanding dari keluarga besar Laskar Pelangi. Apalagi ditambah bonus foto gratis dengan personil keluarga besar Laskar Pelangi. Kelak, dari usaha sablon kaos ini, bisa berkembang biak ke mana-mana. Saya yakin multiplyer effect-nya akan besar. Seperti pengembangan pertunjukan fragmen Laskar Pelangi di kawasan pelabuhan penumpang Tanjungpandan, yang kini juga sudah diberi nama Pelabuhan Laskar Pelangi.
Setiap turis yang datang ke Belitong, diberikan agenda ‘wajib’ menonton fragmen tersebut. Seperti ketika kita ‘dipaksa’ travel agen menonton perrtunjukkan cabaret di Bangkok sebagai ‘menu wajib’ kunjungan ke ibukota Thailand itu.
Secara sosial, kiprah keluarga besar Laskar Pelangi bisa memicu semangat warga lokal untuk maju. Alhasil, masyarakat Belitong akan menjadi pelaku (industri) wisata di negeri mereka sendiri. Sebuah ikhtiar yang harus didukung banyak pihak. Termasuk Anda, yang membaca catatan saya ini. ***


