Setiap kali mengunjungi Makassar, selalu membawa kesan mendalam bagi saya. Pun kali ini, sebagai kunjungan pertama di tahun 2010. Pekan lalu, 30 Juni 2010, kantor saya menyelenggarakan sebuah event lokakarya manajemen pers bagi para penerbit media cetak se-wilayah Sulawesi Selatan di Makassar. Acara ini juga dirangkai dengan musyawarah cabang Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Cabang Sulawesi Selatan.
Akibat cukup seringnya bertandang ke Makassar, maka saya sudah cukup hafal dengan sejumlah praktisi penerbit pers di kota Anging Mamiri itu. Apalagi, meskipun termasuk kota metropolitan, populasi media cetak di Makassar dan Sulawesi Selatan secara umum, tidak sebanyak di kota-kota metropolitan lainnya. Bahkan, dengan Palembang saja, jumlah penerbit koran harian di Makassar, masih tertinggal. Praktis di Makassar kini hanya terdapat empat koran harian: Fajar, Tribun Timur, Ujungpandang Ekspres, dan Berita Kota.
Dulu, masih ada sebuah harian yang sangat legendaris yang dimiliki keluarga Manuhua, yakni Harian Pedoman. Sayang… koran itu sudah almarhum sekitar 2 tahun lalu. Kalaulah ada koran-koran harian lain di Sulawesi Selatan, mereka menyebar di Pare-pare, Palopo, dan Bulukumba. Selebihnya, penerbitan pers di Makassar didominasi oleh keberadaan suratkabar mingguan dan bulanan yang mencapai lk 17 penerbit.
Kali ini, dalam event lokakarya manajemen pers, saya hadir bersama dua pengurus lain Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat –Sukardi Darmawan (Sekretaris Jenderal) dan Bambang Halintar (Ketua Bidang Pendidikan dan Penelitian). Kami bertiga menyajikan tiga materi. Saya sendiri menyampaikan hasil riset SPS bulan Juni 2009, tentang perilaku pembaca media cetak di 15 kota, khususnya data tentang Makassar. Adalah kebetulan Makassar menjadi salah satu kota tujuan survei.
Sementara Sukardi Darmawan membawakan materi tentang efektivitas cash flow. Urusan uang, terutama cash flow memang sangat sulit. Kalau tidak dikelola dengan proper, akan menyebabkan mismanagement. Bisa-bisa berujung pada kebangkrutan sebuah perusahaan, termasuk media. Adapun Bambang Halintar menyampaikan sejumlah inspirasi tentang meningkatkan pemasukan perusahaan melalui aktivitas off-print.
Salah satu temuan yang saya anggap menarik dari survei SPS bagi para penerbit di Makassar adalah, rata-rata daya beli orang Makassar terhadap koran harian ternyata di bawah angka rata-rata 15 kota. Jika rata-rata daya beli koran di 15 kota sebesar Rp 81 ribu/bulan, maka di Makassar hanya Rp 75.680/bulan. Karena itu, sangat sulit untuk berharap orang Makassar bisa berlangganan koran harian lebih dari dua merek tiap bulan. Sekadar contoh, sebuah koran harian besar di Makassar, mematok harga langganan per bulan Rp 75.000. Sementara koran pesaing, mematok angka hampir sama.
Yang terjadi kemudian, adalah persaingan yang sangat ketat. Pasar eceran, seperti juga terjadi di hampir seluruh Indonesia, menguasai pemasaran koran-koran di Makassar.
Tapi, ada kabar baik di sisi lain. Rupa-rupanya, minat baca masyarakat Makassar terhadap koran harian terbilang tinggi. Bahkan di atas angka rata-rata 15 kota. Lama waktu orang Makassar membaca koran per minggu adalah 4,57 jam, atau kalau dirata-rata per hari menjadi 39 menit. Sedangkan rata-rata 15 kota “hanya” 34 menit/hari. Woooowww…!! Harapan baru pun terbentang. Setidaknya, ada modal cukup besar bagi para penerbit koran harian di Makassar untuk terus bertumbuh: cukup tingginya minat baca koran masyarakat Makassar.
Bagaimana pun, tiap kompetisi pasti menjanjikan aroma yang sengit, laiknya sebuah pertandingan olahraga. Tinggal mengelola kualitas konten, saya kira, yang akan menjadi faktor “pembeda” antar pemain koran yang tengah bersaing di Makassar. Survei SPS ini juga menyatakan dengan tegas, bahwa era koran harian saat ini tak cukup sekadar menyajikan berita-berita hard news. Dibutuhkan kedalaman, ada features semacam depth news dan investigative reporting yang ditunggu-tunggu para pembaca.
Dahlan Kadir, Ketua SPS Cabang Sulsel
Jelang sore, usai lokakarya ditutup, saya dan pengurus SPS memfasilitasi musyawarah cabang SPS Cabang Sulawesi Selatan, dengan agenda memilih pengurus SPS Cabang Sulsel periode 2010 – 2014. Awalnya, pemilihan akan diselenggarakan dengan menggunakan model formatur. Namun, saat baru akan bersidang, diputuskan kemudian untuk menghadirkan seluruh anggota yang hadir saat itu berjumlah 7 penerbit: 2 harian dan 5 suratkabar non harian.
Lewat pemilihan yang sangat demokratis menggunakan mekanisme voting, terpilihlah M Dahlan Kadir (SKM Tegas) sebagai Ketua SPS Cabang Sulsel, menggantikan Putra Jaya (SKM Demos). Putra Jaya bersama Agus Salim AH (Harian Fajar), selanjutnya terpilih sebagai Anggota Dewan Pertimbangan. Susunan selengkapnya adalah: Wakil Ketua I – Mustawa Nur (Harian Berita Kota), Wakil Ketua II – Yonathan Mandiangan (SKM Eksis), Sekretaris – Machmud Sallie (Majalah Akselerasi), Wakil Sekretaris – Subhan Yusuf (Harian Ujungpandang Ekspres), Bendahara – Andi Heri Moein (SKM Mapres), dan Wakil Bendahara – M Alie (Majalah Karya). Selamat bertugas kepada Pengurus SPS Cabang Sulawesi Selatan yang baru. ***





