Rasanya tidak adil jika melihat Indonesia hanya dari kacamata wilayah “barat” saja (baca: Pulau Jawa). Betapa beruntungnya rakyat Indonesia yang tinggal di Jawa. Pun para pengusaha penerbitan pers. Bayangkan, misalnya, jika seluruh pabrik kertas koran berlokasi di Jawa. Hampir semua distributor tinta ada di Jawa. Apalagi, pasar (pembaca) terbesar koran juga ada di Jawa (60 – 70%).
Karena itu, ketika mendengar curahan hati (curhat) kolega saya, Sultan Eka Putra, Direktur Utama Harian Timor Ekspres di Kupang, tentang mahalnya bahan baku penerbitan koran di Nusa Tenggara Timur (NTT), saya menjadi sangat prihatin. Hhhhhhhhhmmmmm…. Bagaimana bisa berbicara tentang masyarakat yang melek koran atau berkebudayaan literasi yang tinggi, jika ongkos untuk mencapai hasil itu membutuhkan usaha (effort) nyaris 3 kali lebih besar dari hal yang sama yang dilakukan di Pulau Jawa?
“Kendala terbesar di NTT adalah mahalnya biaya distribusi barang, termasuk distribusi koran ke daerah-daerah,” sambung Haeruddin, Wakil Direktur Harian Timor Ekpres kepada saya. NTT memang salah satu propinsi kepulauan di republik ini, disamping propinsi Kepulauan Riau. Tak kurang terdapat 111 pulau (besar dan kecil) di wilayah NTT. Dari jumlah itu, hanya sekitar 30 pulau yang sudah didiami. Empat pulau besar di NTT adalah Pulau Timor (Kupang terletak di sini), Pulau Flores, Pulau Sumba, dan Pulau Rote. Total populasi di NTT adalah lk 4,53 juta jiwa yang tersebar di 21 kota/kabupaten.
Letak geografis yang terpencar-pencar, menjadikan transportasi udara menggunakan pesawat ukuran kecil, berpenumpang 12 – 60 orang, menjadi kritikal keberadaannya di NTT. Tak heran jika sejumlah maskapai nasional menerbangi berbagai kota di NTT, seperti Waingapu, Ende, Maumere, Rengat, Labuhanbajo, Larantuka, dll, dari homebase-nya di Kupang. Diantaranya Susi Air, Riau Airlines, Aviastar, dan Batavia Air. Bepergian dari satu kota ke kota lain di NTT, jauh lebih “hemat” menggunakan pesawat ketimbang naik kapal ferry yang bisa berjam-jam, meskipun harganya jauh lebih mahal dibanding dengan ferry.
Tak salah, situasi semacam ini memang membuat distribusi koran pun rada tersendat. Sulit berharap koran harian bisa dijual “semurah” di Jawa. Dua penerbit eksisting koran harian di Kupang, Timor Ekspres dan Pos Kupang, yang masing-masing membawa panji-panji Jawa Pos Grup dan Kompas Gramedia Grup, sadar betul kondisi ini. Jika pun saat ini koran-koran di Kupang dijual seharga Rp 3.500/eks, sebenarnya penerbit koran itu memberikan subsidi cukup besar agar korannya bisa dinikmati warga di Rengat, Labuhanbajo, Larantuka, atau pun Alor, dll, yang harus diangkut dengan pesawat tadi.
Sekadar membandingkan harga koran yang mahal ini, suatu malam di tanggal 26 Mei 2010, waktu saya tengah berada di Kupang untuk sebuah kegiatan kantor, saya membeli satu eksemplar Jawa Pos dari seorang loper yang tengah menjajakannya di depan kantor pusat Bank NTT, Kupang. Mau tahu harganya? Ternyata, 8 ribu perak, boss…!!!
“Haaaahhhh……! Mahal amat,” sungut saya bercampur heran bin kaget. Padahal, di bandrolnya, Jawa Pos edisi 26 Mei 2010 itu hanya diterakan Rp 4.000/eks. Hhhhhhhhhhhhmmmmm…. Saya teringat dengan cerita Sultan Eka Putra di awal tulisan ini. Bahwa barang-barang memang mahal di Kupang, karena harus diangkut nun jauh dari Jawa. Umumnya berasal dari Surabaya. Jadi, Jawa Pos yang sampai di Kupang paling “pagi” pukul 12.00 WITA, pantas saja dijual semahal itu. Tapi, jangan-jangan saya dikerjain si loper itu, karena melihat tampang saya yang macam “turis lokal”, alias bukan orang asli Kupang. Waaaaaaaaaaaahhhhhh…!!!
Menerbitkan koran di Kupang dan NTT secara umum, memang membutuhkan nyali yang sangat besar. Tak sekadar modal besar yang dibutuhkan. Melainkan juga kemampuan membaca selera pasar masyarakat NTT. Belum lagi urusan SDM, sebagaimana di daerah-daerah remote lainnya di Indonesia, hal ini perlu mendapat perhatian besar. Semakin ke timur wilayah Indonesia, ketimpangan kualitas pendidikan memang semakin besar.
***
Hhhhhhhhhhhhmmmmmm…. Roda kehidupan di Kupang dan mungkin begitulah di kota-kota lain di NTT, terasa lambat berjalan. Pemilik toko di Kupang, misalnya, umumnya lebih memilih tutup pada kisaran pukul 13.00 – 17 WITA. untuk istirahat siang alias tidur. Selepas pukul 5 sore, mereka buka kembali hingga pukul 9 malam. Sektor jasa juga tidak banyak berkembang di sini. Pariwisata, yang semestinya memberikan kontribusi besar bagi PAD, belum digarap maksimal. Lagi-lagi, ini akibat keterbatasan infrastruktur. Bagi turis-turis lokal macam saya, tentu harus berpikir berkali-kali lipat menjelajahi keelokan alam NTT, karena ongkos transportasi begitu mahal dengan menggunakan pesawat tadi.
Pertambangan, setali tiga uang. Tidak ada potensi tambang besar yang dieksploitasi saat ini di NTT. Jadilah kebanyakan warga Kupang dan sekitarnya, lebih memilih hidup sebagai pegawai negeri sipil, beternak (sapi dan babi), berdagang, maupun menjadi petani. Lazimnya di berbagai daerah di tanah air, khusus berdagang (membuka toko), umumnya didominasi oleh para pendatang dan masyarakat keturunan Tionghoa.
Dengan populasi hanya sekitar 300 ribu jiwa, Kupang yang seluas 250 km persegi terasa lengang. Salah satu karunia terhebat yang dimiliki Kupang adalah letaknya yang berada di bibir Teluk Kupang. Banyak orang menilai pantai-pantai di sekujur pinggiran kota Kupang sangat indah.
Saya sendiri tidak memiliki banyak kesempatan menikmati keindahan pantai-pantai Kupang kemarin itu, dari 25 – 28 Mei 2010, ketika berada di kota tersebut. Toh, saya masih bersyukur bisa mendatangi salah satu rumah kerajinan Sasando yang terkenal di Kupang. Sang pengrajin sekaligus seniman itu, Martinus Pah, tinggal bersama keluarganya di Oebelo, sebuah desa di Kabupatan Kupang, berjarak lk 20 km ke arah barat daya kota Kupang menuju Soe.
Martinus Pah berasal dari pulau Rote. Di rumahnya itu, ia dan keluarganya mengerjakan produk-produk kerajinan khas NTT, macam tenun ikat dan Sasando. Satu prototype Sasando, ia bandrol Rp 100 – 200 ribu/biji. Ia juga sempat merekam kepiawaiannya bermain Sasando melalui CD, meskipun dengan kualitas audio yang sangat terbatas tidak seperti halnya di studio rekaman.
Apa pun, masih banyak peluang sekaligus tantangan berbisnis di Kupang, termasuk berbisnis media cetak. Tak usah muluk-muluk bicara ancaman internet di sini, karena akses internet di Kupang jelas masih (sangat) ketinggalan. Lemot sekali koneksi internetnya. Dengan begitu, tampaknya media cetak masih bisa berkembang lebih baik di Kupang. Sepanjang, ekonomi lokal tumbuh semakin cepat, saya yakin banyak media cetak akan mampu hidup layak di Kupang dan seluruh wilayah di NTT. ***





