Sepi namun tertata rapi. Itulah kesan pertama jika bertandang ke kota Palangkaraya, ibukota propinsi Kalimantan Tengah. Cukup dengan 1,5 jam penerbangan dari Jakarta, Palangkaraya sudah bisa dicapai, dengan penerbangan langsung. Ada empat maskapai komersial yang menerbangi Jakarta – Palangkaraya tiap hari: Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air di jam-jam pagi sekitar pukul 09.00 WIB, Batavia Air sekitar pk. 11.00 WIB, dan Lion Air pada kisaran pukul 19.00 WIB. Bandara Tjilik Riwut, sebagai pintu gerbang Palangkaraya sendiri termasuk bandara “kecil”, dengan panjang apron lk. 2.000 meter dan hanya bisa didarati oleh pesawat Boeing seri 737.
Selasa (27/4) lalu, untuk kedua kalinya setelah Januari 2007, saya berkunjung ke Palangkaraya, dalam program lokakarya manajemen pers bagi penerbit media cetak di propinsi Kalimantan Tengah, yang dihelat kantor saya bekerjasama dengan Dewan Pers. Ada cukup banyak perubahan di Palangkaraya setelah tiga tahun lebih baru kembali lagi ke kota yang dikenal dengan sebutan “Kota Cantik”, itu.
Perubahan cukup mencolok, tentu saja, terjadi di bandara. Kini, bangunan terminal –keberangkatan dan kedatangan– cukup modern, meski dengan luasan yang terbilang kecil. Apron bandara juga telah diperluas, sehingga cukup menampung tiga pesawat seukuran Boeing 737 sekaligus. Uniknya, seperti juga di Jambi dan Malang, pesawat yang parkir di apron harus mengambil sisi paling pinggir di bagian kiri atau kanan. Apa pasal? Lantaran tidak ada mobil pendorong bagi pesawat agar bisa mundur ketika hendak menuju ke runway. Jadilah pesawat harus bergerak ke depan beberapa meter lalu memutar ke kanan atau ke kiri untuk kemudian menuju ujung landasan pacu guna take off.
Buat saya pribadi tak ada soal dengan keterbatasan fasilitas di bandara Tjilik Riwut ini. Hanya, ini menegaskan bahwa bandara ini masuk –dalam kategori yang saya buat sendiri– sebagai kategori IV. Pagi itu, saya menumpang Sriwijaya Air dari Soekarno Hatta. Sesuai jadwal, pesawat mendarat mulus di Tjilik Riwut pada pukul 10.40 WIB. Hhhhhhhmmmm… Saya baru tersadar jika Palangkaraya masuk dalam wilayah waktu Indonesia Barat, bukannya Indonesia Tengah sebagaimana saya bayangkan selama ini.
Dengan menumpang taxi bandara seharga Rp 60 ribu, saya meluncur menuju hotel Dandang Tingang di Jalan Yos Sudarso, dalam suasana hujan lebat sepanjang perjalanan yang normalnya cuma 10 menit itu. Tiga tahun lalu, saya juga menginap di hotel yang dimiliki oleh Pemprov Kalimantan Tengah ini. Serba terbatas, memang, fasilitas di hotel. Hot spot area tidak ada. Koneksi internet melalui modem pun juga lambat sekali. Usut punya usut, rupanya di Palangkaraya sambungan internet tidak begitu bagus.
Palangkaraya memiliki 2 ikon: Jembatan Kahayan dan Bundaran pusat kota. Lanskap bundaran ini mirip dengan Simpanglima di Semarang. Dan di sinilah pusat kota berada. Di kawasan bundaran, terletak satu-satunya mal (Palma=Palangkaraya Mal), Rumah Dinas Bupati, dan Batang Garing Business Center. Tak jauh dari bundaran, terdapat Gedung DPRD Kalimantan Tengah yang berhadapan dengan Tugu Pendirian Kota Palangkaraya, yang diresmikan Presiden Soekarno pada 1957.
Sejurus mata memandang, kehijauan pepohonan dan bunga di berbagai ruas jalan tampak menyolok menghiasi seluruh Palangkaraya. Secara bergurau, banyak orang menyebut, Palangkaraya adalah kota di dalam “hutan”. Hijau betul, memang. Sehingga kalau Anda ingin mengisi paru-paru tubuh Anda dengan udara segar, datanglah ke kota ini. Heheheheheheee…. Segar sekali usai jalan-jalan kaki menyusuri kota di bawah kerindangan pepohonan yang berderet sepanjang pinggir trotoar.
Dengan penduduk cuma lk 200 ribu jiwa (Sensus 2005 menyebut sebanyak 188 ribu jiwa), penduduk Palangkaraya dilayani oleh empat koran harian: Palangka Post, Kalteng Post, Dayak Pos, dan satu koran anyar Tabengan Post. Di luar Palangkaraya, terdapat dua buah koran: Radar Sampit di Sampit dan Borneo News di Pangkalanbun. Mau tau oplahnya per hari? Seorang peserta pada lokakarya ini menyebut tak lebih dari 60 ribu eksemplar. Saya sendiri tak begitu yakin, mungkin cuma 40-an ribu eksemplar. Katakanlah dibulatkan ke angka 50 ribu eksemplar. Jika ini betul dan semuanya terjual habis, maka Palangkaraya bisa dibilang sebagai salah satu kota dengan perbandingan pembaca koran vs penduduk tertinggi di Indonesia, 50 ribu : 200 ribu penduduk alias 1:4. Standar Unesco sendiri menyebut 1:10.
Woooooooowwwww….!!!! Agak meragukan, memang. Heheheheheheehehe…. Tapi, apapun, bisnis koran harian di Palangkaraya –sebagaimana juga dialami oleh pemain koran di kota lain di luar Jawa– sedikit banyak mendapat subsidi dari pemerintah daerah melalui halaman-halaman kontrak. Jelas ini sangat menolong eksistensi koran-koran di Palangkaraya dan Kalimantan Tengah secara umum. Mengingat pendapatan dari iklan lokal belum terlalu menonjol, terutama yang berasal dari iklan display. Umumnya, iklan display koran-koran lokal di kota ini, berasal dari jasa provider seluler, otomotif, dan properti. Selebihnya adalah iklan lowongan kerja, bursa jual beli motor dan mobil, serta –belakangan yang sangat marak– iklan-iklan pilkada.
Walaupun agak tertatih, namun potensi pasar koran harian di Palangkaraya masih terbuka lebar. Seiring pertumbuhan penduduk asli maupun migrasi pendatang dari luar Kalimantan Tengah, tentu akan menguatkan aktivitas ekonomi lokal. Ujungnya bakal berimbas kepada dinamika pertumbuhan ekonomi yang diharapkan bisa meningkatkan daya beli masyarakat, khususnya terhadap koran-koran lokal. Daya beli yang masih rendah terhadap koran, adalah masalah klasik di Palangkaraya. Pun, saya kira, juga terjadi di sejumlah kota lain di Indonesia.
Butuh usaha keras dan kreatif dari teman-teman penerbit koran di Palangkaraya untuk meningkatkan minat baca masyarakat, sekaligus merangsang tercapainya pertumbuhan ekonomi lokal. Agar mampu meningkatkan daya beli penduduk. ***




Posting yang menarik, salam kompak dan semoga sukses.
Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru kami berjudul : “Wisata kepulau Bali”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan tolong dikomentarin yaaa. Makasiiih.
Terima kasih bung Haris, atas kunjungan dan komentarnya. Salam kompak dan sukses selalu.
Tulisan Anda membuat saya bernostalgia dengan Palangkaraya, kota dimana saya tuk pertama kali ditempatkan sejak diangkat sebagai PNS… sayang Anda tidak mengangkat tentang keberadaan badan perpustakaan provinsi Kalteng .. jadi nostalgia saya tidak lengkap… selamat dan sukses selalu…
Bung Adi yang baik… Maaf baru me-reply komentar Anda. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Hhhhhhmmmm…. Senang rasanya mendengar Anda bisa sedikit bernostalgia tentang PKY setelah membaca tulisan saya ini. Tentang Badan Perpustakaan Kalteng, saya memang tidak menulis karena saya tidak punya kompetensi menuliskan secara detil tentang kantor itu. Namun lebih daripada itu, saat di PKY tempo hari, saya tidak punya cukup banyak waktu untuk berkeliling. Insya Allah kalo suatu ketika ke PKY lagi, saya akan coba sempatkan berkunjung ke kantor itu dan menuliskannya di blog saya ini. Sekali lagi terima kasih dan sukses slalu untuk Anda…!!!