
Peserta workshop, berpose bersama Wahyu Muryadi (TEMPO).
Cuma beristirahat semalem, usai menuntaskan acara diskusi buku Unesco di Surabaya, Kamis (29/10) pagi sekitar pk. 07.30 WIB, saya sudah berada di stasiun Gambir. Hari itu, kantor saya membawa rombongan peserta workshop How to Handle Press Well yang berasal dari 18 lembaga –perusahaan swasta, instansi pemerintah, dan BUMN– menuju ke Kuningan, Jawa Barat via Cirebon. Ini adalah event reguler tiap tahun yang digelar kantor saya, untuk memberikan exercise kepada para praktisi PR tentang kasus-kasus terkait relasi PR dengan media atau wartawan.
Rangkaian KA Argojati yang kami tumpangi, pagi itu berangkat on time, sebagaimana jadwal yang diberikan, pk. 09.00 WIB. Hampir tiga jam kemudian, kereta pun sampai di stasiun Cirebon. Seluruh peserta langsung saya ajak ke kantor Harian Radar Cirebon, untuk bersantap siang sekaligus meninjau dapur redaksi koran terbesar di wilayah pantura Jawa Barat itu.
Sekitar satu jam kami berada di kantor Radar Cirebon. Usai bersantap siang dan meninjau beberapa ruangan di kantor ini, saya lalu mengajak peserta menuju hotel Grage Sangkan, Kuningan, lokasi workshop ini diadakan. Total 32 peserta mengikuti workshop reguler yang telah berlangsung sejak 2006 itu.
Grage Sangkan, sebuah resort yang cukup eksotis, berada di kawasan Sangkan Hurip, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kawasan ini memang dikenal sebagai pusat resort dengan pemandian air panas alami. Udaranya cukup sejuk, berkisar 22 – 27 derajat celsius. Kalau malam hari bisa di bawah 20 derajat celsius.
Selama tiga hari dua malam, di resort inilah workshop berlangsung. Sore itu, pada hari pertama, tampil Wahyu Muryadi, Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO, sebagai narasumber pertama. Ia membawakan dua topik: Bergaul dengan Wartawan dan Audit Pemberitaan.
Bergaul dengan wartawan, kata Wahyu, sebaiknya tak cuma saat PR membutuhkan kehadiran mereka di kantor untuk acara konferensi pers. “Semestinya hubungan dengan wartawan harus dibangun secara berkesinambungan. Meskipun hanya “say hello”, sebaiknya mengontak wartawan secara berkala adalah hal yang baik dan saya anjurkan,” kata mantan Kepala Protokoler Istana di zaman Presiden Abdurrahman Wahid ini.
“Jangan menghubungi wartawan tatkala sedang butuh saja,” ingat Wahyu lagi. Seperti kena sindiran, sejumlah peserta saya lihat cengar-cengir alias senyum simpul mendengar wejangan Wahyu ini. Rupanya, banyak diantara mereka yang tersindir, jadi tersipu-sipu malu, ketahuan kalau memang hanya mengontak wartawan di kala hendak mengadakan konferensi pers saja.
Tak cuma urusan bergaul dengan wartawan yang jarang dilakukan PR yang jadi obyek pembicaraan sesi Wahyu. Sikap terlalu percaya diri PR terhadap media juga perlu mendapat perhatian. “Mengenal dekat pemimpin redaksi sebuah media, misalnya, jangan langsung diartikan akan selalu mudah berhubungan dengan media itu,” kembali Wahyu mengingatkan.
Kadangkala, dengan mengenal pemimpin redaksi sebuah media, memang teman-teman PR akan merasa bahwa semua urusan dengan media itu bakal bisa selesai, apalagi kalau ada kasus pemberitaan, misalnya. Tapi, itu rupanya bukan jaminan. Walaupun, dengan mengenal dekat seorang pimpinan media, akan “mempermudah” akses menyelesaikan sebuah kasus atau meningkatkan relasi.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah soal keberadaan wartawan bodrex yang menjamur di setiap event yang diselenggarakan oleh institusi. “Semestinya Anda tidak perlu memberikan perlakuan istimewa kepada mereka. Toh, mereka bukan berasal dari media berpengaruh,” lanjut Wahyu. Sudah jamak diketahui, dalam berbagai event “hajatan” korporasi, selalu ada wartawan bodrex di sana. Seperti keluhan kawan dari Perum Perumnas, yang katanya tiap mengadakan perayaan ulang tahun, jumlah wartawan bodrex terus meningkat dari tahun ke tahun.
Sayangnya, kawan-kawan PR ini seperti menghadapi “dilema” dalam mengikapi wartawan bodrex. Hendak “diusir” mereka bingung tak tahu caranya. Kalau didiamkan, akan terus menjamur tidak bisa diatasi kehadirannya. Serba sulit dan membingungkan. Akhirnya, meskipun sambil mengeluh, umumnya teman-teman PR ini tetap saja mengalokasikan dana untuk para wartawan bodrex tersebut. Hhhhhhmmmm…..
Malam hari, Kamis (29/10), usai acara perkenalan yang berjalan santai ditemani alunan sejumlah lagu dari penyanyi lokal Kuningan, Intan Abdams Katoppo, Corporate Secretary Bank BNI tampil dalam talk-show mini yang saya pandu. Ia bercerita tentang pengalamannya selama ini dalam mengelola hubungan dengan media.
“Intinya, tak mudah mengelola wartawan. Kita harus mau bekerja capai dan secara berkesinambungan mengenal mereka dari pemimpin redaksi hingga wartawan lapangan,” bebernya. Tak kalah penting, secara internal, kata Intan, PR harus berani dan mampu meyakinkan manajemen, jika PR bisa mengelola jika terjadi krisis komunikasi. “Manajemen harus memberikan kepercayaan kepada kita, praktisi PR. Karena tugas kita antara lain mengamankan munculnya potensi kasus komunikasi,” imbuh Intan.
Salah satu ujian kemampuan bagi para praktisi PR adalah membuat hak jawab seandainya muncul kasus pemberitaan di media yang menjurus kepada praduga pencemaran nama baik (defamation). Wina Armada, anggota Dewan Pers, tampil membawakan materi tentang hak jawab ini. Jadilah teman-teman peserta workshop ini berpraktek membuat hak jawab.
Saya membagi seluruh peserta dalam lima kelompok. Selain hak jawab, peserta juga harus membuat press release yang kemudian dipresentasikan pada hari ketiga sebelum closing acara. Materi press release dan press conference diambilkan dari visit ke museum Linggarjati atau ketika menyambangi kawasan batik Trusmi di kabupaten Cirebon.
Dipandu oleh Kukuh Sanyoto, akhirnya terpilih sebagai tim dengan penampilan konferensi pers terbaik adalah kelompok I, yang antara lain beranggotakan Dewi (Depkes), Hendra (Pemkab Kutai Kartanegara), Nasihin (PN Gas), dan Michael (Sampoerna Agro). ***