Sejak awal Kompas dikenal oleh publik pemerhati industri pers sebagai sebuah institusi media cetak yang sangat “baku dan tertata” dalam menjalankan bisnisnya. Ketika Kompas semakin bertambah “tambun” tubuhnya, karakter itu tidak juga hilang, sebaliknya justru kian permanen dibenamkan oleh para pimpinannya. Harapannya, untuk menjaga tradisi manajemen Kompas yang sedari awal sudah dikenal sangat “birokratis” itu. Saya menyebut model Kompas ini sebagai model “sistemik”.
Lain dengan Jawa Pos. Saya melihat Jawa Pos dibangun dengan gaya-gaya “mencoba”. Ketika (alm) Erick Samola –waktu itu salah satu petinggi di kelompok bisnis Ciputra– mengambil-alih Jawa Pos dari pemilik lamanya di tahun 1982, ia mungkin membayangkan Jawa Pos akan menjadi salah satu koran lokal saja di Surabaya dan Jawa Timur. Karena di zaman itu, tabu untuk melakukan ekspansi usaha koran, meskipun hanya berkhayal. Barangkali begitu. Sehingga, boleh jadi, tidak terbayang di benaknya, Jawa Pos bisa berkecambah seperti sekarang di bawah pengelolaan Dahlan Iskan.
Nyaris tak banyak “aset” yang bisa digunakan Dahlan Iskan saat mulai membangun Jawa Pos. Dahlan Iskan pun lalu melakukan banyak “percobaan” itu. Ia memang mendapat mandat yang luar biasa dari Erick Samola dan para petinggi Grafiti Pers yang juga menjadi pemegang saham Majalah TEMPO, untuk mengembangkan Jawa Pos.
Dengan “pasukan” yang pas-pasan, Jawa Pos pun ia kembangkan. Lama-kelamaan, upayanya berhasil dengan baik. Banyak pihak mencoba mendekat untuk menjalin kerjasama dengan Jawa Pos. Dalam situasi seperti ini, Jawa Pos lalu mewariskan gaya “mencoba” tersebut dengan memulai ekspansi ke daerah-daerah. Beberapa anak muda yang bertalenta kuat, dikirimkan Dahlan Iskan untuk memulai membangun kerajaan Jawa Pos grup.
Rupanya, gaya “mencoba” di daerah ini pun menuai sukses serupa dengan induknya di Surabaya. Koran-koran divisi 1 (koran-koran di ibukota propinsi) milik Jawa Pos grup, mampu berkembang pesat. Semua itu dijalankan oleh kepemimpinan anak-anak muda di bawah usia 40 tahun. Memang, di Jawa Pos grup, anak muda adalah “penguasa”.
Suatu ketika, Dahlan Iskan pernah bercerita kepada saya. Bahwa saat diumumkan siapa yang ingin pergi ke Papua untuk membuka koran baru di Jayapura, ternyata ada satu anak muda yang berminat. Jadilah kini Cenderawasih Pos menjadi koran lokal terkemuka di sana, dengan Suyoto sebagai komandannya.
Pola ini terus berlangsung dari waktu ke waktu. Di Jawa Pos sendiri, pergerakan anak-anak muda tidak kalah ramainya. Leak Kustiya, yang kini menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos menggantikan Rochman Budianto, adalah anak muda yang masih berusia di bawah 40 tahun. “Pemred di Jawa Pos harus anak muda,” ujar Dahlan setengah berkelakar kepada saya di Surabaya (27/10), ketika saya mengunjungi Graha Pena.
Bagaimana dengan Kompas? Seperti saya ungkap di atas, Kompas memulai tradisi berbisnis koran dengan sangat-sangat proper. Berhati-hati sekali, sampai-sampai kehati-hatian itu tercermin dalam editorial policy mereka. Saya masih ingat, pada paruh dekade 90-an, Kompas dikenal sebagai koran yang “bermain aman” (safety player newspaper). Berita-berita di Kompas terbilang tidak kritis, meskipun juga bukan menjilat. Bagi anak-anak muda di zaman itu, membaca Kompas terlalu konservatif alias sama dengan membaca “kemapanan”. Ketika itu, banyak anak muda seperti saya membutuhkan “koran alternatif”. Kebetulan di Semarang, waktu itu saya bisa mendapatkan Jawa Pos dengan mudah. Ada gelombang yang sama antara kebutuhan informasi dengan hasrat “kemudaan” generasi seusia saya terhadap Jawa Pos.
Kemapanan, kehati-hatian, dan kesantunan, adalah karakter menonjol dari Kompas. Boleh jadi, ini merupakan refleksi dari kepemimpinan Jakob Oetama. Ia memang dikenal sebagai sosok yang santun, menjunjung tinggi harmoni dan sebaliknya menjauhi konflik. Pantaslah ketika hendak melakukan cetak jarak jauh di Bawen, Semarang, pada akhir dekade 90-an, agar Kompas bisa terdistribusi lebih pagi di kawasan Semarang dan sekitarnya, Jakob Oetama pun memerlukan “sowan” ke pemimpin Suara Merdeka.
Setiap kali mempersiapkan sesuatu, terutama dalam pengembangan bisnisnya, Kompas berhitung betul. Berbagai kemungkinan mereka kalkulasi, jangan sampai meleset. Jadilah ekspansi koran mereka ke daerah-daerah tidak seagresif Jawa Pos. Meskipun perlu diverifikasi, tapi saya menduga, investasi Kompas setiap menerbitkan koran daerah baru, pasti lebih besar ketimbang yang dilakukan oleh Jawa Pos. Kompas identik dengan “tubuh besar”, sementara Jawa Pos adalah potret “tubuh ramping”.
Mana diantara dua model manajemen koran itu yang benar? Keduanya adalah benar, menurut saya. Kalau salah, pasti bisnis koran daerah Jawa Pos dan Kompas tidak akan segemerlap sekarang. Pasti Kompas sudah menutup koran-koran daerahnya jika bisnisnya merugi. Pun dengan Jawa Pos. Koran adalah bisnis. Menerbitkan koran bukan lagi sekadar soal membangun gagasan idealis. Pertemuan idealisme dan bisnis itulah yang akan mewujud dalam produk yang baik sekaligus diminati pasar (pembaca dan pengiklan).
Dalam perkembangannya, Kompas kini semakin agresif bergerak ke daerah-daerah. Apakah ini lantas menjadikan mereka tidak proper dan sehati-hati dahulu? Tampaknya, Agung Adiprasetyo, CEO Kelompok Kompas Gramedia (KKG), tengah mengembangkan model manajemen campuran (mix management), yang menggabungkan antara hasrat (passion) ekspansionisme dengan gaya sistemik yang sudah menjadi tradisi mereka. Ekspansi berjalan, jika perlu semakin cepat, tapi tidak melupakan model dasar manajemen Kompas yang sangat sistemik tadi.
Hasilnya, kini Kompas mulai mengibarkan koran-koran daerahnya dengan bendera “Tribun”, untuk menambah persaingan di daerah dengan koran-koran divisi 1 Jawa Pos. Kian tambunnya koran-koran daerah Kompas berimplikasi pada struktur manajemen di tubuh KKG, khususnya di bidang sirkulasi. Kini, sirkulasi koran-koran KKG tidak ditangani sendiri-sendiri, melainkan sudah berada di bawah lembaga korporasi. Nah, model ini berbeda dengan yang dilakukan Jawa Pos grup, yang mendelegasikan kebijakan sirkulasinya kepada anak perusahaan mereka.
Penyatuan kebijakan sirkulasi dalam satu manajemen seperti dilakukan Kompas memang menguntungkan. Disamping merupakan suatu bentuk efisiensi, juga untuk meningkatkan posisi tawar di mata agen dan pengiklan. Namun risikonya, lembaga sirkulasi itu menjadi sangat gemuk, butuh kecermatan yang jauh lebih tinggi dalam mengelolanya. Tak cuma sirkulasi. Bagian periklanan di Kompas pun kini juga dikelola secara korporasi.
Berbagai perubahan di tubuh Kompas mengindikasikan mereka berusaha taat kepada gaya sistemik yang sudah dibangun selama 44 tahun. Ada upaya kuat untuk menggelindingkan gaya manajemen integratif, terlebih sejak Kompas kian memberi perhatian terhadap pengembangan portalnya (Kompas dot com).
Sementara Jawa Pos, sekali lagi, terus bertahan dengan gaya “eksperimentasi” mereka, dengan tumpuan kepada anak-anak muda yang inovatif, berani mengambil risiko, dan tidak takut berbuat salah. Karena kesalahan-kesalahan itulah yang akan mengajarkan mereka untuk menjalankan perusahaan dengan “lebih benar”, lebih baik, dan lebih ekspansif. ***



Wah mas, saya senang sekali membaca blog Mas As, karena kebetulan memang membutuhkan informasi tentang Kompas vs jawa pos.
Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan, kira-kira sampai berapa lama surat kabar cetak di Indonesia bisa bertahan? dan harian seperti apa kira-kira yang akan bisa bertahan?
Kemudian mas, idealisme itu kan memang harus digabungkan dengan kebutuhan bisnis, lalu menurut Mas As sendiri, harian seperti lampu hijau, pos kota, berita kota, layak untuk di terbitkan atau tidak?
o iyah ada pertanyaan lagi, bagaimana cara menulis artikel yang baik menurut mas As??
Terimakasih mas As ^_^
Hallo Agnes… Maaf sekali baru bisa balas. 1). Saya kira –tentu saya bukan dukun, hehehee…– suratkabar di Indonesia dalam wujudnya cetak seperti sekarang masih akan tetap hidup nyaman sampai lk 20 tahun mendatang. Survei kami tahun 2009 di 15 kota juga mengindikasikan hal serupa; 2). Harian yang akan bertahan adalah mereka yang semakin lokal, tajam, dan memiliki posisioning kuat di mata pembaca. Pendek kata, harian itu benar-benar menjadi “representasi” kebutuhan informasi pembacanya; 3). Idealisme memang harus berkolaborasi dengan bisnis, karena tanpa bisnis, industri suratkabar tidak akan bisa berkembang baik. Tentang koran2 macam Lampu Hijau, Pos Kota dan Berita Kota, bagi saya tetap layak untuk terbit, sepanjang mereka tidak melanggar UU Pers dan patuh terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dalam pemberitaannya. Sejauh itu ditaati, maka tidak ada persoalan dengan penerbitan mereka. Pada akhirnya, pembaca jua yang akan menilai dan “menghakimi” apakah koran-koran itu layak dan pantas hadir di pasar.
4). Cara menulis artikel yang baik. Hhhhhhhmmmmm…Saya tidak punya resep khusus, karena saya juga merasa tidak pernah bisa menulis artikel yang baik. Tapi, saya punya rumus sendiri, bahwa saya tidak pernah “memikirkan baik atau jelek” sebuah artikel yang saya tulis. Tulis saja…sepanjang kita memang ingin menulis. Tentu saja, tulisan kita itu tetap harus megindahkan etika dan rambu-rambu umum penulisan yang bisa kita temui dari belajar pada tulisan orang lain.
Jadi, kalau Agnes hendak menulis artikel yang baik, maka mulailah dengan belajar menuliskannya tanpa berpikir apakah tulisan itu baik atau tidak (dalam konotasi kualitas). Selamat menulis, semoga laris manis tulisannya. Hehehehehee… Smangadz slalu…!