Semua orang yang berkecimpung di industri media cetak di negeri ini, sangat paham tentang “rivalitas” klasik antara Kompas vs Jawa Pos. Dalam banyak kesempatan bergaul dengan para pemimpin kedua penerbitan koran itu, saya menjumpai berbagai momen yang mempertontonkan aroma “persaingan” itu. Memang hawa kompetisi di level pucuk manajemen tidak “sepanas” di level operator. Tapi, saya tetap merasakan aura kompetisi itu selalu menyelimuti setiap perjumpaan bersama pucuk pimpinan kedua koran papan atas ini.
Kompas, selama ini dianggap sebagai representasi dari koran nasional yang sukses. Nyaris semua wilayah –pulau, propinsi, dan sebagian besar kota/kabupaten– tersentuh oleh Kompas. Dengan oplah yang berkisar 500-an ribu eksemplar (data Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, Juni 2009), Kompas memang menguatkan eksistensinya sebagai koran nasional.
Adapun Jawa Pos, adalah potret sukses koran daerah atau regional. Dengan tiras berkisar 300-an ribu eksemplar (data SPS Pusat, Juni 2009), Jawa Pos merambah Jawa Timur dan sekitarnya. Jawa Pos pula yang mengawali gelombang ekspansi koran-koran lokal di seluruh Indonesia melalui koran divisi 1 (terbit di ibukota propinsi), maupun koran divisi 2 (di kota atau kabupaten dalam satu propinsi). Ini semua dibangun Jawa Pos sejak akhir dekade 80-an, yang membuat Jawa Pos grup kini memiliki lebih dari 100 koran.
Lambat laun, ekspansi ke daerah-daerah juga dilakukan Kompas. Awalnya, Kompas memang telah memiliki koran-koran daerah di bawah naungan Indopersda Primamedia, anak usaha Kelompok Kompas Gramedia. Tapi ekspansi tersebut tidak berkembang secara masif. Baru dalam kurun lima tahun terakhir, Kompas bergerak lebih cepat: menerbitkan koran-koran baru dengan label induk “Tribun”.
Catatan saya menunjukkan, saat ini “Tribun” sudah menjejak di Batam, Pekanbaru, Lampung, Pontianak, Makassar (Tribun Timur), Balikpapan (Tribun Kaltim), Manado, dan Jawa Barat (Tribun Bandung). Sebelum melahirkan “Tribun”, Kompas sudah memiliki Serambi Indonesia (Banda Aceh), Bangka Pos (Bangka-Belitung), Banjarmasin Post (Kalimantan Selatan), Sriwijaya Pos (Sumatera Selatan), dan Pos Kupang (Kupang).
Ekspansi Kompas dalam menerbitkan koran lokal terus berlangsung. Saya pun mendengar kabar jika Kompas sudah menyiapkan diri untuk menerbitkan “Tribun” di seluruh ibukota propinsi tersisa. Antara lain di Jambi, Padang, Palangkaraya, Gorontalo, Denpasar, dan seterusnya. Pendek kata, legiun “Tribun” akan menjadi wakil Kompas di daerah untuk berkompetisi dengan koran-koran divisi 1 Jawa Pos.
Di tengah persaingan klasik kedua koran itu, terdapat sejumlah koran papan atas yang menurut saya semestinya menjadi “penyeimbang”. Mereka adalah Waspada dan Analisa (Medan), Pikiran Rakyat (Bandung), Suara Merdeka (Semarang), Kedaulatan Rakyat (Jogjakarta), dan Bali Post (Bali). Tanpa keberadaan koran-koran legendaris –umumnya koran-koran ini sudah berusia lebih dari 40 tahun– itu praktis industri koran tidak menarik, karena cuma mempertontonkan perseteruan abadi Kompas vs Jawa Pos.
Kini, baik Kompas maupun Jawa Pos adalah pemimpin pasar di segmen masing-masing. Anak-anak perusahaan mereka, saat ini juga tengah “mewarisi” hawa kompetisi itu di berbagai propinsi. Lucunya, setiap saya berdiskusi dengan teman-teman Jawa Pos di daerah, mereka suka mengeluhkan ekspansi Kompas yang kian agresif di daerah itu. Salah satunya akibat strategi harga promosi Rp 1.000/eks yang dipraktekkan koran-koran baru “Tribun” saat awal muncul di pasar. Seperti –yang saya lihat sendiri– berlangsung di Pekanbaru dan Pontianak (2008) dan di Manado (2009). Ada rasa gerah yang timbul dari legiun Jawa Pos di daerah mendapati kenyataan ini.
Sebaliknya, teman-teman Kompas di daerah , juga tak lupa “curhat” tentang kiprah pasukan divisi 1 Jawa Pos setiap kali saya berjumpa mereka.
Ekspansi Kompas ke daerah dalam skala masif ini memang agak terlambat. Di masa sebelum dipimpin oleh Agung Adiprasetyo (CEO KKG sekarang), Kompas mengerem pertumbuhan koran lokal barunya. Sementara saat itu, Jawa Pos justru “ngebut” menerbitkan koran lokal di mana-mana. Apa sesungguhnya latar belakang Kompas mengambil kebijakan ini?
Walaupun masih bersifat menerka-nerka, saya yakin betul langkah Kompas yang agresif itu dipicu oleh tren pertumbuhan ekonomi lokal yang terus menguat. Pasar lokal, termasuk untuk koran, dianggap lebih berkembang dibanding pasar koran nasional. Tiras koran nasional memang semakin sulit bergerak naik, meski masih saja ada investor mau menerbitkan koran baru di Jakarta. Namun kue iklan koran, termasuk koran lokal, justru kian bertumbuh.
Karenanya, pasar koran di daerah diyakini masih menjanjikan. Paling tidak ini keyakinan Kompas dan Jawa Pos. Kalau tidak yakin, tentu mereka akan berpikir ulang untuk meneruskan langkah ekspansi yang sampai kini belum ada tanda berhenti itu.
Kelak jika Kompas sudah benar-benar menyebarkan pasukan “Tribun” di semua propinsi, kita akan saksikan persaingan yang mendekati “sempurna”. Pada situasi seperti itulah, koran-koran “kelompok penyeimbang” akan sangat vital perannya untuk mengurangi kebosanan publik terhadap kompetisi Kompas vs Jawa Pos.
Sebagai pemimpin pasar sekaligus lokomotif industri media cetak, Kompas dan Jawa Pos akan menjadi panutan penerbit koran lain. Adalah sangat bijaksana, bila mereka berdua menjaga suasana industri koran untuk tetap kondusif. Setiap gerak keduanya, pasti akan menjadi sorotan publik. Kedua kelompok usaha koran ini harus menunjukkan kepada publik industri maupun masyarakat di republik ini, bahwa koran merupakan ruang publik yang masih memelihara nilai-nilai idealisme dan independensi, serta patuh terhadap seluruh nilai-nilai etika bisnis. Semoga…!!! ***



Mantap ! tapi perlu juga ditelisik juga model pengembangan mereka mas, KOMPAS dan JAWA POS punya model management yang berbeda, yang satu formal yang satu lebih egaliter… jadi saya menunggu jawaban/analisa mas As strategi2 yang mereka pakai di pasar…siapa tahu bisa jadi inspirasi…
Siyab, mas… Sebenarnya sudah terbayang strategi mereka. Secara umum apa yang mas Basri bilang itu benar. Segera saya posting jika sudah siap tulisannya, mas. Suwun atas smangadnya. Sukses terus buwat misterblek…!!!
Sip! mas As..saya juga menuggu mas…tulisan pengamat pers dari sudut bisnisnya…krn dari orang lainlah bisa tahu & belajar siapa sebenarnya kita…tx.
Ya mas Didiet. Siyap, laksanakan…!!! heheheheheee….
kalau boleh beritanya ditaambahin biyar seru.katanya wartawan itu pencuri yang handal bener ga?
Bung Rifky, secara normatif jelas tidak boleh wartawan nambah2in berita demi “seru”-nya cerita. Jelas itu pelanggaran kode etik. Soal pencuri handal, saya kira tidak itu tugas wartawan. Kalau pun toh ada, paling hanya segelintir dan itu jelas perilaku yang tercela, yang hanya akan membuwat citra wartawan jadi jelek di mata publik. Anyway, terima kasih sudah berkunjung di blog saya. Senang berkenalan dengan pemikiran Anda, bung. Sukses slalu yaaa…!!!
sebenarnya Jawa Pos itu koran lokal atau koran nasional to mas?terus klasifikasi koran lokal dan koran nasional seperti apa to??terima kasih atas jawabannya..hee…
Bung Dany, Yth. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Salam kenal untuk Anda dan semoga Anda senantiasa sehat. Tentang apalah Jawa Pos itu koran nasional atau lokal, kalo saya pribadi berpendapat bahwa Jawa Pos sendiri adalah koran lokal, tepatnya koran regional (Jawa Timur). Saya ingat betul pernyataan pak Dahlan Iskan beberapa tahun silam, yang mengatakan, bahwa kelak hanya akan ada satu koran nasional, atau bahkan tidak ada sama sekali. Karena semua koran akan menjadi koran lokal. Bahkan Jawa Pos itu sendiri.
Adapun mengenai definisi koran nasional vs koran lokal, dalam hemat saya dan ini menjadi pedoman di kantor saya –Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat– bahwa sebuah koran bisa dikatakan koran nasional manakala koran itu mampu membuktikan peredaran (distribusi) korannya di minimal 5 propinsi. Mudah-mudahan jawaban saya bisa berkenan. Tabik dan smangad terus… hehehehehehee….
Terima kasih infonya. Salam Kenal. Iklan Jawa Pos. Sy tgg Komentar nya di Blog
Mas Rudi, Yth. Terima kasih telah berkunjung di blog saya. Salam kenal juga untuk Anda dan sukses slalu….!
Artikel yang menarik, walopun saya telat bacanya.
JP atau KG memang sudah lama banget aku kenal, sejak masih SD orang-orang di komplek rumahku langganannya dua koran itu. Bayangin aja, satu rumah langganan dua koran, untung gratis. hehe.
Setelah puas baca kedua koran itu, sekarang aku ‘nebeng’ di salah satunya. Kompetisi yang benar2 terasa waktu di lapangan.
Padahal mestinya yang bersaing itu cukup korporasinya saja, wartawan tidak usah ikut2an. Wartawan harusnya lebih kompak di lapangan.
Thanks buat pencerahannya.