
SMAN 1 Teladan Jogja, kali ini menjadi kampiun debat wilayah DIY
Setiap pertandingan, selalu menghasilkan pemenang dan pecundang. Tapi dalam banyak kompetisi, menang atau kalah bukanlah segalanya. Pun yang terjadi pada Olimpiade Membaca APBN Tk SMA se-Indonesia (OMASI) 2009 ini. Siapa pun pemenang atau pecundang, mereka adalah anak-anak bangsa terbaik di negeri ini, yang kelak akan menjadi pemimpin masa depan.
Final lomba debat OMASI wilayah DIY di TVRI Stasiun Jogjakarta, Minggu siang (26/4) kemarin membuktikan ungkapan di atas. Suasana “panas” yang sebelumnya sempat saya rekam sebelum pertandingan, sontak lumer sudah usai final berlangsung. Betapa tidak panas, jika para jagoan dari daerah masing-masing harus “berantem” di tingkat paling krusial: FINAL…!!! Dan, final lomba debat APBN di Jogja kemarin menghadirkan tiga tim yang sama-sama tangguh, setelah melewati babak penyisihan dan semifinal yang cukup melelahkan. Ketiganya adalah SMAN 1 Teladan Jogjakarta, SMA Budi Mulia 2 Jogjakarta, dan SMA Taruna Nusantara Magelang.

Tim SMA Taruna Nusantara, juara II lomba debat di Jogja
Ikhwal kehadiran SMA Taruna Nusantara memang agak sedikit kompleks. Karena sebenarnya event di Jogja hanya diperuntukkan bagi sekolah-sekolah di wilayah propinsi DIY saja. Tapi, karena mereka (anak-anak Taruna Nusantara) begitu berhasrat sangat kuat untuk mengikuti lomba, akhirnya kami pun mengakomodasinya. Tapi, ujungnya ada juga ketidakenakan kami terhadap para peserta. Dan…. itu terbukti lewat pertanyaan ketidaksenangan sejumlah peserta dan guru-guru pembimbing yang hadir. “Kok ada Taruna Nusantara, padahal ini kan hanya event tingkat DIY dan surat undangan yang kami terima menyatakan begitu,” kata seorang guru pembimbing setengah curhat kepada saya.
Hhhhhhhhhhmmmmmmm….. Soal-soal macam ini sedari awal sudah saya prediksi akan menimbulkan sebuah komplikasi.

Tim SMA Budi Mulia 2 Jogja. Tim paling heboh, menjadi Juara III debat.
Kembali ke arena pertarungan di babak final lomba debat, sejatinya kekuatan ketiga finalis cukup merata. Walau harus diakui, anak-anak SMA Budi Mulia paling tidak siap dibanding anak-anak SMAN Teladan maupun Taruna Nusantara. Tim SMA 1 Jogja memiliki kekuatan dalam hal penguasaan masalah, walau cara penyampaian mereka tidak sesistematis anak-anak Taruna Nusantara. Yang terakhir ini, tim dari Gunung Tidar, tampil sistematis tapi kurang dalam menjawab pertanyaan moderator dan juri. Bahkan di sesi kedua dan ketiga debat, terlihat betul anak-anak SMA Teladan mampu memposisikan diri mereka di atas SMA Budi Mulia dan Taruna Nusantara, lewat jawaban yang tajam dan fokus.
Apa pun, penampilan Taruna Nusantara dan Budi Mulia tetaplah harus mendapat acungan jempol. Mereka telah berusaha maksimal untuk menggapai yang terbaik. Bahkan, dengan tampilan yang cenderung “liberal”, anak-anak Budi Mulia tampak jauh lebih happy meski hanya menyabet juara III. Asal tahu saja, sekolah tersebut baru dua tahun berdiri, dan sudah mampu menggapai prestasi sedemikian tinggi. Luar biasaaaaaaaaaa….!!! Kampiun wilayah DIY akhirnya berhasil dipinang oleh anak-anak SMA 1 Teladan Jogja. Tim SMA Taruna Nusantara harus puas menjadi runner up.
Dengan total peserta mencapai 64 tim dari 38 sekolah, event OMASI di Jogja mencatatkan rekor kepesertaan paling tinggi dibanding sembilan kota lokasi lomba lainnya. Yang mengejutkan, sejumlah sekolah “periferi” yang selama ini belum terdengar namanya di blantika OMASI, mampu menyodok ke peringkat 10 besar. Seperti ditunjukkan oleh tim SMAN 1 Kalibawang, Kulonprogo. Sungguh, OMASI telah menyembulkan bibit-bibit kaum intelektual anyar bagi republik tercinta. Ini menunjukkan, bahwa dalam OMASI, tak menjamin sekolah favorit akan senantiasa menjadi pemenang. Atau sebaliknya, sekolah non unggulan harus selalu menjadi pecuncang.
Tidak kawan…!!!! OMASI justru mendorong siapa pun yang pantas tampil menjadi jawara akan muncul dengan sendirinya. Dari sekolah mana pun itu. Jadi? Tetap smagad dan optimis yaaaaaaaaa….!!!



“OMASI, tak menjamin sekolah favorit akan senantiasa menjadi pemenang. Atau sebaliknya, sekolah non unggulan harus selalu menjadi pecuncang…”
wahh…wah….klo opini yg kyk gni aq setuju bgtz…..!!!
Hdup OMASI<<>>
tpi, Tegas khan peraturan!!!
“saya prediksi akan menimbulkan sebuah komplikasi.” ujar pak asmonowikan….
tpi, kok msih direalisasikan…
kalau boleh tahu…pertimbangan bapak terhadap SMA Taruna Nusantara ???
Repp…
Hmm..woi, skola skola laen yg gg favorit. Ak yakin bs lbi bgus dari sma1 jogja kug. Cz 92prsen prestasi yg ddapat siswa dsman1 jogja thu gg ad dkungan skola. Prek bgd de. Luk kalian pada niat pasti ad jalan bwd ngalain SMA 1 jogja.
SMA 1 JOGJA thu cma ngawe ngawe aj. Jd luk muridna ad yg ikut lmba dbiarin. Nek kalah dibiarin. Nek menang diaku2..wah curhat ki..hahaha.
gak gitu gitu jugak kalik bang. sma 1 selalu memfasilitasi muridmuridnya yang berprestasi kok. buktinya ada tambahan pelajaran buat olimp, sma 1 jugak selalu nyaring muridmurid yang berbakat buat olimp kok. mungkin di angkatan anda belom ada, tapi di angkatan saya sudah ada kok
pokoknya teladan jaya mahe !