
Karina, siswi SMAN 4 Denpasar, memberikan testimoni kepada calon peserta.
Seharian pada Rabu (15/4), saya menjalani sejumlah meeting di kantor. Malam harinya (14/4), saya baru tiba dari Palembang usai memberikan TM Olimpiade Membaca APBN Tk SMA 2009 wilayah Palembang dan sekitarnya. Esok harinya, Kamis (16/4) adalah jadwal bagi Denpasar. Lantaran sejumlah meeting dari pagi hingga jelang maghrib itu, saya baru bisa terbang ke ke Denpasar pada pukul 21.20 WIB.
Lewat sedikit tengah malam, sekitar pk. 00.45 WITA, saya baru menjejak kamar hotel tempat saya menginap di Hotel Inna Denpasar. Sudah dua kali ini saya menginap di Inna, yang berlokasi di Jalan Veteran. Setiap kali menginap di sini, saya merasa tak seperti sedang berada di sebuah hotel. Hhhhhhhhhhmmmmm….. Nuansanya mirip banget dengan guest house atau homestay. Bangunannya tidak bertingkat, dengan kamar-kamar yang kokoh bernuansa peninggalan Belanda.
Tekad besar untuk menonton siaran pertandingan perempat final leg ke-2 antara MU vs Porto, malam itu harus saya luruhkan. Sinyal-sinyal di tubuh saya sudah terlalu kuat mengindikasikan kalau saya cukup lelah. Tidur, lalu jadi pilihan terbaik.
Agak siang saya baru terbangun, sekitar Pk. 07.30 WITA. Waaaaaaaahhhhhhh…. jelas kesiangan ini. Saya bergegas mandi dan bersiap sarapan. Dua kawan panitia lokal di Denpasar –Tribana dan Sueca– ternyata sudah menjemput saya dan Tedjo, kawan kantor saya, di hotel untuk menuju lokasi TM Olimpiade Membaca APBN 2009 wilayah Bali, di kompleks Yayasan Dwijendra, tak jauh dari Renon.
TM di Denpasar merupakan TM terakhir, mengakhiri kegiatan serupa di 10 kota sejak 17 Maret di Jakarta. Jadwal event di Denpasar sendiri pada tanggal 26 – 27 Mei 2009. Berdasarkan absensi yang saya peroleh, 22 sekolah di Denpasar dan sekitarnya hadir pada TM yang berlangsung hingga Pk. 12.30 WITA itu. Sepertihalnya di kota-kota lain yang sudah pernah diselenggarakan olimpiade ini, di Denpasar pun saya juga melihat wajah-wajah lama yang kelak akan kembali menjadi peserta. Karina, siswi SMAN 4 Denpasar yang menjadi anggota tim debat pemenang wilayah Bali, juga hadir. Ia saya undang untuk memberikan testimoni kepada para calon peserta.

Suasana TM di Bali
Boleh jadi karena sudah dua kali diadakan, sejak 2007, selama TM berlangsung, cuma segelintir pertanyaan yang meluncur kepada saya. Umumnya malah bukan urusan teknis. Hanya sedikit yang menyinggung masalah teknis. Yang menggembirakan, ada usulan agar kantor saya dan Depkeu mengintegrasikan olimpiade membaca APBN dengan olimpiade sains nasional yang dihelat Depdiknas. “Agar semakin kredibel dan bisa berkelanjutan,” usul seorang guru.
Tentu saja saya sangat apresiatif dengan usulan itu. Memang saya dan kawan-kawan di kantor maupun Depkeu, terus memikirkan berbagai macam perbaikan sistem, agar event ini menjadi semakin bergengsi dan berkualitas. Termasuk komunikasi dengan perguruan-perguruan tinggi negeri lokal ternama, untuk mengupayakan agar para juara olimpiade APBN bisa memperoleh tiket gratis kuliah.
Bahkan, saya juga tengah mempersiapkan agar mulai 2010 program ini menggunakan model prakualifikasi di tingkat-tingkat kabupaten/kota. Di tingkat itulah panitia lokal akan bekerjasama dengan Bupati/Walikota melakukan seleksi untuk diambil yang terbaik maju tingkat propinsi. Nah, baru di level propinsi kantor saya dan Depkeu datang untuk membiayai, sekaligus mengambil yang terbaik guna ditarik ke Jakarta mengikuti grand final.
Jelas itu semua membutuhkan waktu. Dari sisi gagasan, kantor saya sudah sangat siap. Tinggal mengkoordinasikan dengan panitia lokal yang solid pula. Sementara dari sisi Depkeu, memang ada sinyal-sinyal positif ke arah sana dari kawan-kawan yang selama ini terlibat langsung hingga tingkat kepala bagian mereka. Mudah-mudahan di tingka lebih tinggi, kepala biro hingga sekjen, juga tercapai pemahaman yang sama ini. Kalau Menkeu, saya sangat yakin akan setuju dengan wacana ini, karena ia juga yang mendorong agar event ini terus berkembang dari tahun ke tahun.
Sejumlah peserta TM di aula Yayasan Dwijendra saya lihat mengangguk-angguk mendengar penjelasan ini. Hingga akhirnya saya mendaulat Karin untuk tampil menceritakan pengalamannya mempersiapkan olimpiade apbn tahun lalu maupun kisah-kisah selama berada di Jakarta mengikuti grand final. Nyaris serupa dengan para pemenang di kota-kota lain, Karin menganggap olimpiade membaca apbn adalah event yang sangat berngengsi.
Tutur kata Karin meluncur rapi dan lugas. Khas seorang anak SMA. Ia menceritakan sebuah pengalaman “kecil” yang membuatnya merasa bahwa dia akhirnya harus puas menyabet Juara II tingkat Bali pada kategori lomba menulis artikel tahun lalu. “Waktu itu, saya ditanya oleh juri, kebetulan pak Asmono, tentang mengapa saya mengambil tema nasionalisme dan upaya menggenjot pajak sementara saya adalah warga negara indonesia keturunan,” beber Karin. “Terus terang, itu adalah pertanyaan yang sangat emosional, mengeduk-eduk hati saya terdalam. Saya menjadi emosional dan akhirnya menangis menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin karena itulah akhirnya saya harus puas mendapat ranking ke-2,” lanjutnya.
Saya merespons pendapat Karin. “Bukan soal menangis itu yang jadi persoalan. Tapi memang ada faktor lain mengenai gagasan tulisan yang membuat kamu kalah dari Ni Made Friska Aswarini (SMAN 7 Denpasar), yang menjadi juara I lomba artikel se-Bali tahun 2008,” jelas saya kepada Karin.
Di luar itu, dengan penuh semangat, Karin menceritakan pengalamannya selama berada di Jakarta. Dari berjalan-jalan di dunia fantasi, naik halilintar dan aneka wahana permainan lainnya. Kemudian makan malam bersama dengan seluruh peserta grand final plus panitia dan guru pendamping mereka. “Sebagian dari kami, akhirnya harus “melanggar” peraturan dari pak Asmono, bahwa harus kembali ke hotel maksimal Pk. 24.00 WIB. Karena kami menonton midnight film Twilite yang kebetulan belum diputar di Bali. Bahkan usai nonton film, bersama sejumlah kawan dari Banjarmasin dan Jakarta, saya berjalan kaki hingga bundaran air mancur Grand Indonesia,” akunya beruntun tanpa ada wajah berdosa di air mukanya.
Senang dan senang…. Itulah inti cerita Karin yang ia sampaikan dengan mata senantiasa berbinar. Entah kenapa ia begitu gembira siang itu. Barangkali karena ia menemukan sebuah “tambatan hati” saat mengikuti grand final di Jakarta 12 Desember 2008. Walau dengan sedikit malu-malu, ia mengakui hal itu. Saya pun tak mau ketinggalan memanfaatkan momentum itu untuk terus menggodanya. Belakangan, usai TM, ketika saya tengah berada di Dunkin Donuts di Jl Teuku Umar Denpasar untuk mengakses internet, sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawat saya ke Jakarta, ia mengirim SMS yang antara lain mengatakan jika saya puas ngerjain dia dengan kata “Banjarmasin”.
Wakakakakakakakakaaaaaaaa…… Saya pun balas berkata, “Dan engkau pun puas mendengar kata Banjarmasin.” Hahahahahahaha….. Hanya saya dan Karin yang tahu maksud kalimat itu. Nun jauh di sana, di Banjarmasin, memang ada seseorang yang tengah dirindu oleh Karin. Saya kebetulan mencomblangi mereka habis-habisan. Rupanya, dua hati pun tertambat lewat olimpiade membaca APBN.
Hhhhhhhhhhmmmmm…. Ini mengingatkan saya dengan peristiwa kuliah kerja nyata (KKN) di kampus lk 13 tahun silam. KKN, di zaman saya kuliah, kerap diplesetkan dengan nama “Kisah Kasih Nyata”. Waaaaaaaaahhhhhhh… Ada-ada saja memang. Tapi, fakta membuktikan, bahwa ada begitu banyak sepasang kekasih mahasiswa yang berhasil merenda kasih dan mahligai rumah tangga mereka dari hasil KKN itu. Dan…………. saya adalah salah satunya. Wakakakakakakakakaaaaaaaaaaaaaaa………………..
Kembali ke Bali. Saya benar-benar plong usai menuntaskan TM di Denpasar. Seluruh perjalanan TM sudah kelar dengan begitu. Saatnya sekarang saya dan kawan-kawan mengatur energi dan strategi dengan baik, untuk menjalani event yang akan dimulai dari Jakarta, Selasa (21 – 22/4) hingga di Denpasar pada 26 – 27 Mei 2009. Semoga teman-teman SMA itu mampu mempertontonkan kepiawaian mereka dalam berdebat dan menulis artikel yang lebih baik dibanding tahun lalu. Come on guyz, let show your performance. Try do your best and keep spirit…!!!!!!!!!!! ***


